Wednesday, 13 Zulqaidah 1442 / 23 June 2021

Wednesday, 13 Zulqaidah 1442 / 23 June 2021

Salju Mencair Berdampak Buruk Sumber Daya Air Amerika Utara

Kamis 08 Apr 2021 04:10 WIB

Rep: Puti Almas/ Red: Dwi Murdaningsih

Ilustrasi - Salju tebal.

Ilustrasi - Salju tebal.

Foto: AP Photo/Dar Yasin
Pencairan salju telah meningkat sehingga berdampak pada sumber daya air.

REPUBLIKA.CO.ID, OTTAWA — Salju yang mencair selama musim dingin di bagian barat Amerika Utara dapat mempengaruhi sumber daya air wilayah tersebut. Kondisi ini cukup mengkhawatirkan, karena dapat berdampak bagi banyak hal seperti terjadinya kebakaran dan terhadap pertanian.

Hal itu diketahui dari analisis terbaru dari University of Colorado Boulder terhadap data selama 40 tahun dari 1.065 stasiun otomatis di Kanada bagian barat dan Amerika Serikat (AS). Data itu menemukan bahwa lebih banyak salju yang mencair di awal tahun. Temuan ini kemudian dipublikasikan pada 5 Maret lalu di jurnal Nature Climate Change.

Dalam studi, para peneliti menemukan bahwa sejak akhir 1970-an batas antara musim dingin dan musim semi perlahan menghilang. Setidaknya sepertiga dari 1.065 stasiun pengukuran salju dari perbatasan Meksiko hingga Arktik Alaska mencatat peningkatan pencairan salju musim dingin.

“Di lingkungan pegunungan yang dingin, saldu menumpuk selama musim dingin dan mencapai titik kedalaman maksimum, sebelum pencairan dimulai pada musim semi,” ujar Keith Musselman, penulis utama studi tersebut, dan peneliti di Institute of Arctic and Alpine Research (INSTAAR) di University of Colorado Boulder, dilansir Digital Journal, Rabu (7/4).

Meski banyak stasiun mencatat peningkatan signifikan dalam pencairan salju terutama selama November dan Maret, para peneliti menemukan bahwa kondisi ini meningkat dari Oktober. Menariknya, penelitian menunjukkan bahwa pencairan salju sebelum 1 April telah meningkat hampir setengah atau sekitar 42 persen dari lebih dari 600 stasiun di bagian barat Amerika Utara, dengan rata-rata 3,5 persen per dekade.

"Secara historis, pengelola air menggunakan waktu pada 1 April untuk membedakan musim dingin dan musim semi. Namun, perbedaan ini menjadi semakin kabur karena pencairan meningkat selama musim dingin," kata Noah Molotch, rekan penulis studi tersebut, sekaligus seorang profesor geografi.

Salju adalah sumber utama air dan aliran sungai di Amerika Utara bagian barat. Di wilayah tersebut, pegunungan bersalju berfungsi seperti menara air. Ini berfungsi untuk menyimpan air di tempat yang tinggi hingga mencair, membuatnya tersedia untuk ketinggian lebih rendah yang dibutuhkan selama musim panas, seperti sistem irigasi tetes alami.

"Kami sangat bergantung pada air yang mengalir dari sungai dan aliran kami di musim hangat di bulan Juli dan Agustus,” kata Musselman.

Pergeseran dari pencairan salju ke musim semi dapat berdampak besar pada pertanian dan ketahanan pangan. Stasiun pemantauan salju merupakan sumber data yang kurang dimanfaatkan. Penelitian ini adalah yang pertama dari jenisnya yang meneliti semua 1.065 stasiun di Amerika Utara bagian barat.

“Stasiun otomatis ini dapat sangat membantu untuk memahami potensi dampak perubahan iklim pada sumber daya kami. Pengamatan yang ada konsisten dengan apa yang menurut model iklim penelitian kami akan terus terjadi,” kata Musselman.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA