Sunday, 15 Zulhijjah 1442 / 25 July 2021

Sunday, 15 Zulhijjah 1442 / 25 July 2021

Ilmuwan Rusia Teliti Salju Tercampur Microplastik di Siberia

Ahad 21 Mar 2021 02:16 WIB

Rep: Dwina Agustin/ Red: Dwi Murdaningsih

Ilustrasi - Salju tebal.

Ilustrasi - Salju tebal.

Foto: AP Photo/Dar Yasin
Ilmuwan khawatir mikroplastik di salju kemudian mencair dan merembes ke tanah.

REPUBLIKA.CO.ID, MOSKOW -- Ilmuwan Rusia mencoba memahami skala potensi ancaman terhadap lingkungan di Siberia. Terdapat kekhawatiran salju tercemar oleh mikroplastik yang kemudian mencair dan merembes ke tanah.

Para ilmuwan di Tomsk State University (TSU) telah mengumpulkan sampel salju dari 20 wilayah Siberia yang berbeda. Salju tersebut diambil mulai dari pegunungan Altai hingga Kutub Utara.

Temuan awal mengkonfirmasi bahwa serat plastik di udara muncul di salju di bagian terpencil alam liar. “Jelas bahwa bukan hanya sungai dan laut yang terlibat dalam sirkulasi mikroplastik di seluruh dunia, tetapi juga tanah, makhluk hidup, dan bahkan atmosfer,” kata direktur ilmiah di pusat Mikroplastik Siberia TSU, Yulia Frank.

Para ilmuwan sekarang mempelajari sampel salju untuk memahami kondisi yang terjadi. Mereka mencoba mencari tahu sejauh mana kepadatan populasi, kedekatan jalan, dan aktivitas manusia lainnya yang berkontribusi terhadap polusi.

Mikroplastik tercipta ketika potongan-potongan sampah plastik yang lebih besar pecah seiring waktu. Benda kecil itu semakin banyak ditemukan di udara, makanan, air minum, dan bahkan es Arktik.

Para ilmuwan pun semakin khawatir hal itu dapat menimbulkan risiko bagi kesehatan manusia dan kehidupan laut. Meskipun hingga saat ini belum ada konsensus tentang masalah tersebut.

Ilmuwan Tomsk sebelumnya telah menemukan mikroplastik dalam sistem pencernaan ikan yang ditangkap di sungai Siberia. Hasil tersebut mengkonfirmasikan bahwa mikroplastik berkontribusi mencemari Samudra Arktik dengan plastik.

"Siberia benar-benar kurang diteliti dalam aspek ini dan minat kami (Rusia) pada masalah ini datang terlambat dibandingkan dengan bagian dunia lainnya," kata Frank.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA