Sunday, 1 Jumadil Awwal 1443 / 05 December 2021

Sunday, 1 Jumadil Awwal 1443 / 05 December 2021

4 Lembaga Top Dunia Beberkan Kondisi Ekonomi Indonesia

Sabtu 27 Mar 2021 00:14 WIB

Red: Elba Damhuri

Suasana deretan gedung bertingkat di antara permukiman di Jakarta, Jumat (12/3/2021). Organisation for Economic Co-Operation and Development (OECD) memperkirakan ekonomi Indonesia akan tumbuh 4,9 persen yoy, ekspektasi untuk pertumbuhan yang lebih tinggi terlihat di pasar keuangan dan pasar komoditas, terutama dengan harga minyak yang meroket di tengah pandemi

Foto:
Empat lembaga ekonomi dunia beberkan kondisi perekonomian Indonesia, seperti apa?

Proyeksi Ekonomi Fitch Ratings

Lembaga pemeringkat kredit internasional berpusat di New York dan London ini memperkirakan produk domestik bruto (PDB) atau pertumbuhan ekonomi Indonesia akan pulih secara bertahap menjadi 5,3 persen pada 2021 dan 6 persen pada 2022.

Fitch melihat ini sebagai pertumbuhan yang sangat baik, mengingat pertumbuhan ekonomi Indonesia sempat terkontraksi 2,1 persen pada 2020 yang disebabkan oleh pandemi Covid-19. Fitch melihat pemulihan tersebut didukung stimulus belanja pemerintah dan ekspor neto Indonesia, termasuk dari perbaikan harga komoditas.

"Kami memperkirakan momentum pertumbuhan akan didukung lebih lanjut dalam waktu dekat oleh langkah-langkah bantuan fiskal dan belanja infrastruktur," tulis Fitch dalam rilisnya seperti dikutip Jumat (26/3).

Pemerintah Indonesia, menurut Fitch, sudah memulai program vaksinasi pada Januari dan bertujuan untuk mencapai kekebalan kelompok pada kuartal pertama 2022. Fitch juga melihat pembangunan infrastruktur tetap menjadi kunci jangka menengah dari prioritas pemerintah.

Namun kapasitas investasinya mungkin terhambat oleh pembayaran bunga yang meningkat (18 persen dari pendapatan pada 2020). 

Selain itu pengeluaran yang diamanatkan secara konstitusional sektor kesehatan dan pendidikan, dan kemungkinan kebutuhan mendukung modal bagi perusahaan milik negara.

Lembaga Pengelola Investasi yang baru dibentuk oleh Otoritas Investasi Indonesia, diyakini akan menjadi sumber pendanaan yang strategis. Lembaga ini dibentuk untuk membantu pendanaan pembangunan infrastruktur selama beberapa tahun ke depan. 

Dana itu berasal dari gabungan dana pemerintah dan sektor swasta, termasuk melalui disinvestasi aset pemerintah, seperti jalan tol.

Fitch memperkirakan defisit fiskal akan sedikit menyempit menjadi 5,6 persen pada 2021 dari 6,1 persen pada 2020, secara umum sejalan dengan target pemerintah Indonesia. Setelah dampak pandemi mereda, Fitch menyatakan konsolidasi fiskal harus dipercepat mulai 2022. 

Ini mengingat dukungan luas di seluruh spektrum politik untuk kebijakan fiskal yang berhati-hati dan rekam jejak akumulasi utang yang rendah Indonesia dibandingkan dengan negara-negara lain.

Dalam pandangan Fitch, konsolidasi kemungkinan akan datang dari penghapusan secara bertahap kebijakan bantuan dan rasionalisasi pengeluaran. Fitch memperkirakan rasio pendapatan akan meningkat secara bertahap menjadi 12,3 persen dari PDB pada 2021. 

Selanjutnya menjadi 12,8 persen pada 2022. Hal ini terjadi seiring dengan pemulihan ekonomi, dari 12,1 persen pada 2020, terendah dalam kategori 'BBB'.

Dampak pandemi pada metrik fiskal Indonesia menurut Fitch tidak separah kebanyakan negara lain yang memiliki peringkat 'BBB'. Fitch memperkirakan utang pemerintah akan mencapai puncaknya sekitar 42 persen dari PDB pada 2022. Namun ini masih jauh di bawah rata-rata negara 'BBB' sebesar 57 persen.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA