Ahad 14 Mar 2021 21:07 WIB

PM Singapura Ingatkan Risiko Konflik Amerika Serikat-China

Amerika Serikat dan China tengah berebut pengaruh di Indo-Pasifik

 Perdana Menteri Singapura, Lee Hsien Loong, mengingatkan dampak ketegangan Amerika Serikat-China
Foto: EPA-EFE/APEC CEO
Perdana Menteri Singapura, Lee Hsien Loong, mengingatkan dampak ketegangan Amerika Serikat-China

REPUBLIKA.CO.ID, SINGAPURA— Perdana Menteri Singapura, Lee Hsien Loong, mengatakan ketegangan antara China dan Amerika Serikat akan semakin meningkat.

Sementara kemungkinan terjadinya konflik militer antara China dan Amerika Serikat tidak tinggi.

Baca Juga

Hubungan antara Amerika Serikat dan China merosot ke titik terendah dalam beberapa dekade di bawah pemerintahan mantan Presiden Amerika Serikat Donald Trump, dengan Beijing mendorong pengaruh global yang lebih besar sebagai tantangan bagi kepemimpinan tradisional Amerika Serikat.

"Ini lebih mungkin terjadi dibandingkan lima tahun lalu, tapi saya pikir kemungkinan bentrokan militer belum tinggi," kata Lee dalam wawancara dengan BBC yang disiarkan Ahad.

"Tapi risiko ketegangan semakin parah, yang akan meningkatkan peluang di kemudian hari, saya pikir itu cukup besar."

Amerika Serikat dan China sedang memperebutkan pengaruh di kawasan Indo-Pasifik, praktik ekonomi Beijing, Hong Kong, Taiwan, dan masalah hak asasi manusia di kawasan Xinjiang China.

Pemerintahan Presiden Joe Biden telah berkomitmen untuk meninjau elemen kebijakan Amerika Serikat terhadap China. Para diplomat top dari kedua negara akan bertemu di Alaska pada 18 Maret dalam kontak tatap muka tingkat tinggi pertama antara kedua negara di bawah pemerintahan Biden.

Singapura memiliki hubungan dekat dengan kedua negara, dan mempunyai pengaruh ekonomi dan politik yang kuat di wilayah tersebut.Lee mengatakan tidak mungkin bagi Singapura untuk memilih antara Amerika Serikat dan China.

Ketika ditanya tentang risiko konflik militer, dia berkata: "Itu bisa terjadi sebelum Anda mengharapkannya, jika ada kecelakaan. Jika negara-negara berhati-hati, itu tidak akan terjadi." 

sumber : Antara/Reuters
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement