Monday, 28 Ramadhan 1442 / 10 May 2021

Monday, 28 Ramadhan 1442 / 10 May 2021

Konsumsi Ayam Telur Masyarakat Indonesia Masih Rendah

Selasa 02 Mar 2021 16:10 WIB

Red: Indira Rezkisari

Peternak memanen telur di peternakan ayam petelur di Bogor, Jawa Barat. Konsumsi daging ayam penduduk Indonesia baru sekitar 10-12 kilogram per kapita per tahun. Atau tidak lebih dari 1 kilogram per bulan.

Peternak memanen telur di peternakan ayam petelur di Bogor, Jawa Barat. Konsumsi daging ayam penduduk Indonesia baru sekitar 10-12 kilogram per kapita per tahun. Atau tidak lebih dari 1 kilogram per bulan.

Foto: ANTARA/Yulius Satria Wijaya
Rendahnya konsumsi ayam telur bukan karena faktor daya beli.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Perhimpunan Insan Perunggasan Rakyat Indonesia (Pinsar) menyebutkan konsumsi daging dan telur ayam masyarakat Indonesia masih rendah. Terutama bila dibandingkan konsumsi per kapita negara tetangga seperti Malaysia dan Thailand.

Ketua Bidang Kesehatan Masyarakat Veteriner Perhimpunan Insan Perunggasan Rakyat Indonesia, drh Rakhmat Nuriyanto, dalam acara diskusi daring yang dipantau di Jakarta, Selasa (2/3), mengatakan konsumsi daging ayam penduduk Indonesia baru sekitar 10-12 kilogram per kapita per tahun. Atau tidak lebih dari 1 kilogram per bulan.

"Contohnya untuk ayam pedaging baru 10-12 kg per kapita. Sementara di Thailand sudah 20 kg ke atas, Malaysia 30-40 kg, kita masih sepertiganya dari negara tetangga," kata dia.

Rakhmat berpendapat sedikitnya konsumsi daging maupun telur ayam di masyarakat Indonesia bukan dikarenakan daya beli yang lemah, melainkan pemahaman penduduk yang belum teredukasi dengan baik. Dia menyitir data Badan Pusat Statistik pada Maret 2020 yang menyebutkan pengeluaran per kapita dalam sebulan untuk membeli rokok sekitar Rp 73 ribu yang nilainya lebih besar dari pengeluaran per kapita sebulan untuk membeli komoditas pangan seperti daging, ikan, kacang-kacangan, maupun telur dan susu.

"Pengeluaran untuk rokok Rp 73 ribu itu untuk ayahnya saja, sementara kalau dibelikan telur itu Rp 23 ribu bisa untuk satu keluarga. Padahal nilai gizinya luar biasa," kata Rakhmat.

Selain itu Rakhmat juga membandingkan harga satu butir telur ayam yang mencapai Rp 1.300 relatif murah dan tidak lebih mahal dari harga sebuah kerupuk yang dijual di warung-warung. Padahal gizi telur jauh lebih tinggi daripada kerupuk.

"Harga kerupuk sekitar Rp 1.000 sampai Rp 1.500, sedangkan telur yang penuh gizi kurang lebih satu butir Rp 1.300," kata Rakhmat.

Selain itu, lanjut dia, rendahnya konsumsi masyarakat Indonesia terhadap telur dan daging ayam dikarenakan ada beberapa mitos yang beredar di masyarakat seperti ayam broiler yang disuntik hormon. Atau telur ayam yang bisa menyebabkan alergi dan meningkatkan kadar kolesterol dalam darah.

Praktisi kesehatan anak dr. Tirza Arif Santosa, SpA mengungkapkan telur memiliki kandungan gizi yang sangat banyak dan lebih tinggi dibandingkan sumber protein hewani lainnya namun memiliki harga yang relatif lebih murah. Tirza menyebut kandungan gizi telur seperti protein yang tinggi asam lemak seperti omega 3, lemak tak jenuh, vitamin A, D, E, dan K, DHA dan gizi lainnya yang sangat baik untuk pertumbuhan otak dan tubuh pada anak.

sumber : Antara
BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA