Friday, 15 Zulqaidah 1442 / 25 June 2021

Friday, 15 Zulqaidah 1442 / 25 June 2021

Petani Kopi Bandung Minta Dibuatkan Perda Minum Kopi Lokal

Selasa 16 Feb 2021 14:26 WIB

Rep: Arie Lukihardianti/ Red: Fuji Pratiwi

Tanaman kopi (Ilustrasi). Petani kopi di Kabupaten Bandung, Jawa Barat mengusulkan adanya Peraturan Daerah (Perda) tentang minum kopi lokal.

Tanaman kopi (Ilustrasi). Petani kopi di Kabupaten Bandung, Jawa Barat mengusulkan adanya Peraturan Daerah (Perda) tentang minum kopi lokal.

Foto: VOA
Perda ini diharapkan mendorong pemasaran kopi lokal Jawa Barat.

REPUBLIKA.CO.ID, BANDUNG -- Petani Kopi yang tergabung dalam Kelompok Tani Hutan Giri Senang Desa Giri Mekar Kecamatan Cilengkrang Kabupaten Bandung, Jawa Barat mengusulkan adanya Peraturan Daerah (Perda) tentang minum kopi lokal.

Ketua Kelompok Tani Hutan Giri Senang Asep Rohman berharap, perda ini diharapkan bisa menjadi salah satu cara mendorong pemasaran kopi lokal Jawa Barat kepada masyarakat. "Kami berharap kopi Jawa Barat ini mempunyai perda, mudah-mudahan masyarakat Jabar ini mulai minum kopi lokal,"  ujar Asep Rohman saat menerima kunjungan kerja Komisi II DPRD Provinsi Jawa Barat, Senin (15/2).

Baca Juga

Menanggapi hal tersebut, Anggota Komisi II DPRD Jabar Asep Suherman mengatakan, kopi saat ini menjadi salah satu komoditas unggulan Jawa Barat. Namun sayangnya pemasaran hasil produk kopi lokal ini masih menjadi kendala. 

Asep pun mendorong pemerintah dapat ikut membantu memasarkan kopi seperti halnya dibuatkan regulasi.

 "Seperti halnya kepentingan makan minum itu diwajibkan bagi pemerintah dan seluruh jajaran instansi menggunakan produk lokal salah satunya kopi. Ini penting agar kepekaan kita terhadap produk lokal ini dicontohkan oleh pemerintah," kata Asep.

Hal senada diungkapkan Anggota Komisi II DPRD Jabar Sari Sundari yang mendorong Pemerintah Provinsi Jawa Barat membuat sebuah kebijakan agar hasil kopi lokal seperti Kopi Palasari ini bisa dipasarkan minimal diseluruh Jawa Barat. 

"Jadi kesulitannya adalah ketika mereka panen tetapi hasilnya tidak ada karena hasilnya sudah diambil oleh ijon. Alangkah baiknya jika pemerintah ikut membuat kebijakan," kata Sari.

Sari mencontohkan kalau kebiasaan minum kopi ini digalakkan, seperti setiap tamu yang datang ke instansi pemerintah diberikan kopi lokal, hasil dari kelompok tani ini tentu bisa diserap dan mereka mendapat keuntungan yang lebih baik karena tidak dijual melalui ijon. 

 

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA