Monday, 23 Zulhijjah 1442 / 02 August 2021

Monday, 23 Zulhijjah 1442 / 02 August 2021

Muslim-Kristen Afrika Tengah Berlindung Bersama di Gereja

Kamis 28 Jan 2021 17:16 WIB

Rep: Dea Alvi Soraya/ Red: Nashih Nashrullah

Kerusuhan picu Muslim dan Kristen Afrika Tengah mengungsi di gereja. Peta Afrika Tengah

Kerusuhan picu Muslim dan Kristen Afrika Tengah mengungsi di gereja. Peta Afrika Tengah

Foto: timeslive.co.za
Kerusuhan picu Muslim dan Kristen Afrika Tengah mengungsi di gereja.

REPUBLIKA.CO.ID, NAIROBI— Kelompok pemberontak di Nairobi, Kenya, Afrika Tengah, membuat kerusuhan dan memaksa ribuan umat Muslim dan Kristen di wilayah tersebut mengungsi untuk menyelamatkan diri.

“Karena kerusuhan itu, banyak orang mengungsi di gereja-gereja,” kata Presiden Konferensi Uskup Katolik Afrika Tengah, Uskup Nestor-Desire Nongo-Aziagbia, kepada Religion News Service yang dikutip Republika.co.id, Kamis (28/1). 

Baca Juga

Nongo-Aziagbia memperkirakan bahwa di Kota Bangassou terdapat sekitar 500 Muslim yang berlindung bersama umat Kristen di gereja-gereja Katolik. Sedangkan, di kota Grimri ada sekitar 1.500 Muslim dan Kristen berlindung di gereja-gereja, dan lima gereja menampung orang-orang di kota Bouar.

Lonjakan kekerasan terjadi ketika enam kelompok pemberontak bersenjata terbesar di CAR bergabung dengan Coalition Patriots for Change (CPC) dan mulai melancarkan serangan di seluruh negeri menjelang pemilihan presiden Desember lalu.

Koalisi ini terdiri atas kelompok pemberontak pro-Kristen dan Muslim, beberapa di antaranya pernah saling berperang. Menurut UNICEF, gelombang kekerasan terbaru ini telah menyebabkan pengungsian besar-besaran dan memaksa hampir 200 ribu orang, setengah dari mereka adalah anak-anak. 

Nongo-Aziagbia mengatakan, tak sedikit orang-orang yang bersembunyi di semak-semak dan anak-anak yang dipaksa keluar dari sekolah. Hal itu juga mengganggu kegiatan ekonomi, pertanian, dan transportasi.

“Hambatan bagi pergerakan bebas orang dan barang memperburuk situasi pangan dan kesehatan penduduk yang sudah sangat dipengaruhi (oleh) berbagai krisis,” kata Nongo-Aziagbia.

Konflik telah menjadi “arena bermain” bagi politik internasional. Rusia bahkan telah meningkatkan kehadirannya di negara yang kaya akan berlian, emas, dan uranium, serta minyak ini. Moskow telah mengirimkan senjata, kontraktor, dan penasihat kepada pemerintah CAR. 

Sebuah perusahaan pertambangan Rusia juga telah diperkenalkan di CAR dan sebuah lapangan terbang di wilayah Ouadda yang dialokasikan untuk Rusia. Rwanda juga telah mengerahkan tentara untuk memadamkan kekerasan pemilu dan melindungi perdamaian. “Negara kita penuh dengan kekayaan, mineral dan bahan mentah, yang menjadi obyek dari segala bentuk keserakahan,” kata Nongo-Aziagbia.

“Kami menyerukan perjanjian yang kuat, konstruktif, dan menguntungkan serta mengakhiri semua jaringan predator tertentu yang paralel dan mirip mafia," sambungnya.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA