Monday, 5 Zulhijjah 1443 / 04 July 2022

Seafood Mengandung Mikroplastik, Masih Aman Dimakan?

Rabu 06 Jan 2021 15:20 WIB

Rep: Rahma Sulistya/ Red: Reiny Dwinanda

Hewan laut memiliki kemungkinan terbesar terpapar mikroplastik akibat sampah plastik yang dibuang sembarangan.

Hewan laut memiliki kemungkinan terbesar terpapar mikroplastik akibat sampah plastik yang dibuang sembarangan.

Foto: Pxhere
Kerang dan tiram di Asia mengandung mikroplastik tertinggi di dunia.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pecinta makanan laut (seafood) menelan serpihan plastik saat mereka memesan sup kerang, tiram goreng, atau pasta kerang. Moluska seperti kerang dan tiram yang dikumpulkan di lepas pantai Asia mengandung mikroplastik tertinggi di antara makanan laut dunia.

Para peneliti menemukan fakta itu setelah meninjau 50 penelitian yang menguji sampel makanan laut yang dikonsumsi masyarakat. Menurut makalah yang belum lama ini diterbitkan di Environmental Health Perspectives, ikan dan krustasea, seperti udang dan kepiting, juga mengandung fragmen mikroplastik.

Baca Juga

Menurut National Oceanic and Atmospheric Administration, serpihan plastik ukurannya lebih kecil dari biji wijen. Serpihan itu berasal dari sampah plastik di dalam air yang terurai.

Selain itu, microbeads pada produk kecantikan yang digunakan untuk untuk eksfoliasi kulit akhirnya juga terbuang ke saluran pembuangan hingga akhirnya membaur dengan air laut. Para peneliti memperkirakan sekitar 14 juta ton mikroplastik dapat ditemukan di dasar laut dunia. Penelitian tentang itu pernah  diterbitkan pada 2020 di Frontiers in Marine Science.

photo
Aktivis lingkungan hidup dari Ecological Observation and Wetlands Conservation (Ecoton) membentangkan poster tulisan saat melakukan aksi darurat pencemaran mikroplastik di sungai kawasan Keputran, Surabaya, Jawa Timur, Kamis (9/7/2020). Aksi tersebut sebagai bentuk keprihatinan atas temuan tim peneliti Ecoton yang menemukan sejumlah polutan berbahaya dan mengidentifikasi enam mikroplastik dari bentukan fiber, fragment, filament, granular, foam dan pelet yang dapat merusak ekosistem serta mencemari sungai di Surabaya. - (ANTARA/MOCH ASIM)
 
Keberadaan mikroplastik bisa berbahaya bagi kehidupan laut dan akuatik. Orang-orang terpapar mikroplastik dengan menghirup atau menelan partikelnya. Tak heran jika mikroplastik telah terdeteksi di jaringan paru, saluran pencernaan, dan tinja manusia. 
 
Sebuah studi baru-baru ini juga menemukan botol susu memaparkan bayi pada jutaan serpihan plastik semacam itu. Bagaimana hal itu mempengaruhi kesehatan manusia? Peneliti masih mencoba mencari tahu jawabannya.
 
“Kehadiran mikroplastik dalam makanan laut memang menimbulkan kekhawatiran, tetapi saat ini sulit untuk mengukur risiko terkait itu,” kata penulis utama studi Evangelos Danopoulos yang juga peneliti pencemaran lingkungan dan mahasiswa pascasarjana di Hull York Medical School di York, Inggris.
 
Penelitian pada hewan dan sel manusia telah menunjukkan mikroplastik dapat memiliki efek buruk. Di lain sisi, sifat mikroplastik secara intrinsik membuatnya sulit untuk diteliti.
 
"Kami melihat mikroplastik terdiri dari campuran dari banyak polimer yang berbeda, dengan ukuran dan konsentrasi yang berbeda,” kata Danopoulos kepada laman Today, dikutip Rabu (6/1).
 
Menurut Danopoulos, beberapa polimer memang dapat menyebabkan efek pada manusia di tingkat sel. Hanya saja, belum diketahui secara persis berapa 'dosis' yang akan memberikan efek tersebut.
 
"Jika tingkat dosis itu kemungkinan akan ditemui pada tingkat yang khas terjadi melalui konsumsi makanan laut,” tuturnya.
 
Danopoulos mengatakan, diperlukan lebih banyak penelitian sebelum peneliti dapat memberikan saran khusus kepada masyarakat tentang makan makanan laut. Ia menyebut, paparan mikroplastik tergantung pada berapa banyak potongan plastik yang ada dalam makanan tertentu dan seberapa berapa banyak makanan ini biasanya dikonsumsi orang.
 
Jumlah maksimum mikroplastik yang dapat dikonsumsi manusia dari makanan laut adalah sekitar 55 ribu partikel setahun. Dalam konteks lain, mungkin maksimum tahunan itu meningkat menjadi 458 ribu partikel dari air keran dan 3.569.000 untuk air kemasan.

 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA