Rabu 02 Dec 2020 12:29 WIB

Gapki: Permintaan Ekspor Sawit Mulai Membaik

Kebijakan lockdown berdampak pada menurunnya permintaan minyak kelapa sawit.

Rep: Dedy Darmawan Nasution/ Red: Nidia Zuraya
Buah Kelapa Sawit dan minyak yang dihasilkan (ilustrasi)
Foto: INHABITAT.COM
Buah Kelapa Sawit dan minyak yang dihasilkan (ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) menyebut, permintaan pasar global terhadap komoditas kelapa sawit mulai membaik. Tren perbaikan ini terjadi setelah anjloknya performa ekspor kelapa sawit sejak awal pandemi.

Ketua Umum Gapki, Joko Supriyono, mengatakan, tahun 2020 ditandai dengan ketidakpastian karena virus corona. Kebijakan lockdown menjadi pilihan untuk mencegah penularan virus.

Baca Juga

Lockdown yang diterapkan di negara-negara Eropa dan Asia alhasil memberikan pengaruh pada permintaan minyak nabati termasuk minyak kelapa sawit yang berpengaruh pada performa ekspor kelapa sawit Indonesia.

"Namun, pada kuartal ke 4, dapat dilihat pasar dunia mulai membaik ditandai dengan peningkatan permintaan dari beberapa negara tujuan ekspor diikuti dengan peningkatan tren harga minyak kelapa sawit," kata Joko dalam Indonesia Palm Oil Conference 2020, Rabu (2/12).

Joko tidak menyebutkan lebih detail mengenai volume dan nilai ekspor pada kuartal terakhir kali ini. Ia hanya mengatakan, memasuki akhir 2020 menjadi waktu yang terbaik untuk melihat pembahasan analisa dan perkiraan pasar kelapa sawit di tahun 2021. Sebab, para pelaku industri juga tidak pernah tahu apakah perubahan di akhir tahun ini membawa perubahan yang baik di tahun depan.

Mengutip laporan terakhir Gapki sepanjang kuartal III 2020,  pada Juli lalu, produksi minyak sawit atau crude palm oil (CPO) mencapai 3,85 juta ton, kemudian naik menjadi 4,38 juta ton pada Agustus dan 4,73 juta ton pada September 2020.

Adapun, nilai ekspor produk sawit pada September mencapai 1,87 juta dolar AS, naik 10 persen dibandingkan dengan nilai ekspor Agustus sebesar 1,69 juta dolar AS.

Joko menuturkan, meski ekspor kelapa sawit Indonesia mengalami penurunan yang dipengaruhi oleh pandemi Covid-19, pemerintah Indonesia tetap konsisten dalam mengimplementasikan program bahan bakar B30 sehubungan dengan rendahnya harga minyak bumi. Menurutnya, hal itu membantu untuk menjaga dan menstabilkan konsumsi domestik.

"Walau kita menghadapi masa sulit namun industri kelapa sawit tetap berjalan dengan baik mengikuti aturan new normal. Kami akan selalu mendukung program pemerintah mandatori biodiesel dan memastikan bahwa kita dapat mengelola 100 persen recovery pada pasar domestik," katanya. 

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement