Monday, 4 Zulqaidah 1442 / 14 June 2021

Monday, 4 Zulqaidah 1442 / 14 June 2021

Pengungsi AS Antusias Berikan Hak Suara

Selasa 29 Sep 2020 13:51 WIB

Rep: Lintar Satria/ Red: Christiyaningsih

 Warga AS memberikan suara dalam pilpres Amerika Serikat. Ada sekitar 860 ribu imigran yang mendapat hak memilih setelah jadi warga negara AS. Ilustrasi.

Warga AS memberikan suara dalam pilpres Amerika Serikat. Ada sekitar 860 ribu imigran yang mendapat hak memilih setelah jadi warga negara AS. Ilustrasi.

Foto: AP/Michael Conroy
Ada sekitar 860 ribu imigran yang mendapat hak memilih setelah jadi warga negara AS

REPUBLIKA.CO.ID, PHOENIX -- Para pengungsi melarikan diri dari perang dan persekusi dari negara-negara seperti Myanmar, Eritrea, dan Irak. Dengan tradisi kemanusiaan yang panjang, Amerika Serikat (AS) membuka pintunya untuk mereka.

Kini puluhan ribu pengungsi yang masuk ke AS selama pemerintah Barack Obama sudah menjadi warga negara AS. November mendatang untuk pertama kalinya mereka akan mengikuti pemilihan umum yang paling penting dalam hidup mereka.

Sejumlah negara bagian sudah mengirimkan surat suara. Para pengungsi dari Arizona hingga Florida yang baru pertama kali memilih sangat antusias untuk memberikan hak suara mereka tapi juga berhati-hati dengan tanggung jawab tersebut.

Mereka akan membantu negara yang membuka pintunya pada mereka untuk memilih pemimpin selanjutnya. Pemenang dari pemilihan ini akan menentukan nasib program yang memberikan manfaat bagi para pengungsi. Donald Trump sudah menghentikan program itu pada tahun fiskal selanjutnya yang dimulai 1 Oktober mendatang.

"Sebagian besar pengungsi datang ke negara ini melarikan diri dari sistem politik di mana pemerintah bukan teman mereka, maka dengan suara mereka didengar menjadi dorongan yang sangat kuat," kata wakil presiden organisasi yang mendirikan permukiman bagi para pengungsi di AS, International Rescue Committee, Hans Van de Weerd, Senin (28/9).

Dalam empat dekade terakhir, pemerintah Partai Demokrat dan Republik rata-rata memberikan tempat tinggal bagi 95 ribu pengungsi per tahunnya. Namun pemerintah Trump merusak tradisi itu dengan hanya membukakan pintu pada 18 ribu pengungsi.

Hanya setengah dari jumlah itu yang datang ke AS pada tahun ini selama pandemi virus corona. Jumlah pengungsi yang diterima AS akan terus berkurang apabila Trump terpilih kembali. Lawannya, Joe Biden, berjanji meningkatkan jumlah pengungsi yang dapat masuk menjadi 125 ribu.

Tidak ada catatan resmi mengenai jumlah pengungsi yang dapat memilih. Tapi organisasi National Partnership for New Americans memprediksi ada sekitar 860 ribu imigran yang mendapat hak memilih setelah menjadi warga negara AS.

Walaupun demikian para pengungsi harus menghadapi sejumlah rintangan. Seperti meningkatnya biaya naturalisasi sebesar 83 persen dari 640 dolar menjadi 1.170 dolar AS.

Setiap beberapa tahun sekali melalui kelas-kelas kewarganegaraan, International Rescue Committee membantu sekitar 6.000 pengungsi dan pendatang baru untuk menjadi warga AS. Banyak organisasi lainnya yang membantu pengungsi melalui proses naturalisasi.

Data dari Departemen Keamanan Dalam Negeri menunjukkan beberapa tahun terakhir sebagian besar pengungsi dan pencari suaka yang menjadi imigran mendapat kewarganegaraan. Angka naturalisasi naik lebih dari 70 persen.

Pengungsi dapat mengajukan kewarganegaraan setelah tinggal lima tahun sebagai residen tetap. Ketika mereka menjadi warga negara, mereka dapat mendaftarkan hak pilih dan memilih.  

"Jadi ada begitu banyak yang ingin memilih kali ini," kata Basma Alawee yang mengelola Florida Immigrant Coalition, organisasi yang menggelar webinar untuk membantu mempersiapkan pengungsi menghadapi hari pemungutan suara.

Lahir di Irak dan kini menjadi warga AS yang tinggal di Jacksonville, Florida, Alawee mengatakan ia berencana untuk memberikan hak suara pertamanya pada 3 November mendatang. Begitu pula pengungsi dari Irak lainnya, Bilal Alobaidi.

Alobaidi pernah hidup di bawah pemerintahan Saddam Hussein. Ia mengatakan selama Saddam Hussien berkuasa di surat suara hanya tercantum namanya dan pilihannya hanya 'ya' atau 'tidak'.

"Jika Anda memilih 'tidak' sesuatu yang baru akan terjadi pada Anda," kata Alobaidi.

Kini mantan pekerja sosial International Organization for Migration itu tinggal di Phoenix, kota gurun yang cuacanya mirip dengan kampung halamannya di Mosul. Alobaidi yang dinaturalisasi tahun lalu bekerja untuk International Rescue Committee. Ia membantu pengungsi lain di Arizona untuk menemukan rumah dan layanan lainnya. Ia mengatakan sudah tidak sabar memberikan hak suaranya.

"Ini pertama kalinya saya menjalani demokrasi, saya tidak sabar," kata laki-laki yang tiba di AS pada Desember 2013 itu.

sumber : AP
BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA