Senin 24 Aug 2020 09:43 WIB

IHSG Bergerak Variatif di Awal Pekan

Sentimen global menunjukkan perbaikan ekonomi meski di Eropa terjadi perlambatan.

Rep: Retno Wulandhari/ Red: Friska Yolandha
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) bergerak variatif di awal pekan ini, Senin (24/8). Indeks saham sempat dibuka menguat ke zona positif di posisi 5.294,15 sebelum masuk ke zona merah dan turun ke posisi 5.261,40.
Foto: ANTARA/Puspa Perwitasari
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) bergerak variatif di awal pekan ini, Senin (24/8). Indeks saham sempat dibuka menguat ke zona positif di posisi 5.294,15 sebelum masuk ke zona merah dan turun ke posisi 5.261,40.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) bergerak variatif di awal pekan ini, Senin (24/8). Indeks saham sempat dibuka menguat ke zona positif di posisi 5.294,15 sebelum masuk ke zona merah dan turun ke posisi 5.261,40. 

Direktur Anugerah Investama Sekuritas Hans Kwee mengatakan pergerakan IHSG akan mendapat pengaruh dari sejumlah kabar internasional. Di antaranya beberapa data Amerika Serikat (AS) yang menunjukan perbaikan, mulai dari data aktivitas bisnis bulan Agustus yang naik ke level tertinggi sejak tahun 2019. 

Baca Juga

Order baru dari perusahaan sektor manufaktur dan jasa juga meningkat. Harga rumah naik ke poisisi tertinggi seiring penjualan rumah mengalami kenaikan.

"Ini menunjukan masih terjadi peningkatan data ekonomi di tengah peningkatan pandemi Covid-19 dan merupakan sentimen positif bagi pasar," kata Hans.

Selain itu, kesepakatan stimulus baru di AS juga merupakan salah satu yang dinantikan pasar sejak akhir bulan Juli. Menurut Hans, tercapainya kesepakatan stimulus ini akan menjadi sentimen positif bagi pasar.

Di sisi lain, zona Eropa menunjukan tanda-tanda terhentinya pemulihan ekonomi kawasan. Purchasing Managers Index (PMI) sektor jasa menunjukan perlambatan pemulihan. Aktivitas masih membaik tetapi pemulihan yang melambat akibat terjadinya kebangkitan virus covid 19 yang berakibat pembatasan aktivitas bisnis. 

"Hal ini menjadi sentimen negatif bagi pasar keuangan karena menunjukan dampak Covid-19 belum berakhir," ujar Hans.

Selain itu, konflik China dan AS terkait saham teknologi juga menjadi sentimen negatif bagi pasar. Penjualan operasi aplikasi TikTok di AS hingga pembatasan aktivitas produksi Huawai merupakan sentimen negatif bagi pasar keuangan. Hal ini dikhawatirkan mengganggu hubungan pertemuan untuk mengevaluasi pakta perdagangan fase pertama. 

Menurut Hans, minggu pendek di pasar saham Indonesia membuat banyak faktor luar negeri belum terdiskon di pasar. Hans melihat, banyaknya faktor negatif dan ketidak pastian di pasar diperkirakan akan berdampak kepada pelemahan IHSG. 

"Ada peluang konsolidasi melemah. Support IHSG di level 5.218 sampai 5.119 dan resistance di level 5327 sampai 5.400," tutup Hans.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement