Friday, 17 Safar 1443 / 24 September 2021

Friday, 17 Safar 1443 / 24 September 2021

KLHK Ungkap Sebab Sulitnya Konservasi Harimau Sumatera

Senin 03 Aug 2020 16:32 WIB

Red: Dwi Murdaningsih

Harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae) bernama Sean menyantap daging yang dipersiapkan di halaman kandangnya saat peringatan Hari Harimau Sedunia di Bali Zoo, Gianyar, Bali, Selasa (28/72020). Kegiatan tersebut sekaligus untuk memulihkan insting harimau berburu mangsa setelah beberapa bulan kebun binatang itu tutup karena wabah COVID-19.

Harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae) bernama Sean menyantap daging yang dipersiapkan di halaman kandangnya saat peringatan Hari Harimau Sedunia di Bali Zoo, Gianyar, Bali, Selasa (28/72020). Kegiatan tersebut sekaligus untuk memulihkan insting harimau berburu mangsa setelah beberapa bulan kebun binatang itu tutup karena wabah COVID-19.

Foto: ANTARA/Nyoman Budhiana
Lebih dari 70 persen habitat harimau sumatera di luar kawasan konservasi.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Lebih dari 70 persen habitat harimau di Sumatra berada di luar kawasan konservasi. Kondisi ini menjadi tantangan tersendiri terkait dengan pelestariannya.

“Distribusi dan areal jelajah harimau sumatera tumpang tindih dengan konsesi kehutanan,” kata Direktur Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam Ekosistem Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Wiratno, dalam keterangannya, Senin (3/8).

Pelestarian harimau sumatera dinilai memiliki tantangan yang berat. Sebab, hewan tersebut tidak hanya tinggal di kawasan konservasi, tetapi juga berkeliaran di luar kawasan konservasi. Salah satunya tersebar di dalam konsesi hutan tanaman industri (HTI).

Untuk itu, sektor swasta terutama di bidang kehutanan perlu dilibatkan dalam upaya konservasi agar dapat memberi peluang bagi harimau sumatera untuk bertahan hidup jangka panjang dan terhindar dari kepunahan.

Menurut dia, perlu kombinasi antara konservasi insitu atau usaha pelestarian alam yang dilakukan dalam habitat aslinya dengan konservasi eksitu atau pelestarian alam yang dilakukan di luar habitat aslinya.

Ia menjelaskan problem terbesar kerusakan lingkungan dan kematian harimau sumatera ada di faktor manusia. Pada 2020, ditemukan 700 jerat yang dipasang warga di sekitar kawasan konsesi.

Sementara itu, Head of Conservation APP Sinar Mas Dolly Priatna mengatakan untuk mewujudkan konservasi satwa, APP Sinar Mas menerapkan lima langkah stategis Sharing Space, Provide Connectivity dan Minimize HEC with Fatalies, Best Management Pratices (BMP) dan Landscape Scale.

"Harimau sumatera punya wilayah jelajah yang luas. Harus ada koordinasi dan kerja sama di semua sektor. Optimistis potensi untuk menyelamatkan harimau sumatera di luar kawasan konservasi sangat besar,” katanya.

Kepala Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Riau Suharyono mengatakan bahwa hampir 99 persen harimau sumatera berada di luar kawasan konservasi, terlebih banyaknya konflik harimau sumatera dan manusia.

“Ini harus jadi perhatian, tidak mungkin kami bekerja sendirian menangani konflik ini. Karena hampir semuanya berada di luar wilayah konsesi. Kita harus bersama-sama menangani konflik,” ujar dia.

sumber : antara
BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA