Wednesday, 10 Rajab 1444 / 01 February 2023

Cerita Dampak Corona di Masyarakat Ekonomi Kelas Bawah

Kamis 16 Apr 2020 13:30 WIB

Rep: Febryan A/ Red: Indira Rezkisari

Sejumlah pedagang kecil menunggu pembeli di Pasar Manonda, Palu, Sulawesi Tengah, Rabu (15/4/2020). Omzet penjualan para pedagang kecil menurun drastis sebagai imbas dari pandemi COVID-19

Sejumlah pedagang kecil menunggu pembeli di Pasar Manonda, Palu, Sulawesi Tengah, Rabu (15/4/2020). Omzet penjualan para pedagang kecil menurun drastis sebagai imbas dari pandemi COVID-19

Foto: BASRI MARZUKI/ANTARAFOTO
Omzet menurun dan hidup tanpa pendapatan mengancam masyarakat ekonomi kelas bawah.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Masyarakat kelas menengah ke bawah paling riskan terdampak wabah Covid-19. Sebagian dari mereka kini hidup tanpa pekerjaan, tanpa pemasukan.

Sebagian lain terseok-seok mempertahankan usaha. Jika tak ada perubahan dalam waktu dekat, bisa jadi mereka terjerembap dalam jurang kemiskinan.

Baca Juga

Seperti itulah gambaran hidup Dayat (30 tahun) kini. Pedagang nasi goreng gerobak di pinggir Jalan Pejaten Raya, Jakarta Selatan, itu mulai mengeluhkan minimnya penjualan. Omzetnya turun drastis sekitar 60 persen sejak Covid-19 melanda Ibu Kota.

"Sekarang tambah parah lagi sejak PSBB (pembatasan sosial berskala besar) di Jakarta," kata Dayat di depan gerobaknya, Rabu (15/4) malam.

Namun, Dayat tak punya pilihan lain. Ia harus tetap berjualan demi menghidupi keluarga. Meski tak ada jaminan dagangannya laku, ia setidaknya mencoba. Ketakutan terpapar Covid-19 pun terpaksa ia lawan.

"Ya saya takut juga corona, tapi mau bagaimana, anak masih kecil. Makanya gimanapun harus tetap jualan," ucapnya.

Jika Dayat masih bisa bertahan, lain halnya dengan Hardianto (27). Sejak sebulan terakhir ia terpaksa menutup lapaknya di Pasar Tanah Abang.

"Tanah Abang sepi. Para pedagang bahkan sekarang banyak yang pulang kampung," kata Hardianto yang biasa berjualan pakaian gamis dan jilbab itu kepada Republika.co.id, Kamis (16/4).

Hardianto kini juga terpaksa pulang ke kampung halamannya di Kota Bukittinggi, Sumatra Barat. Tujuannya demi menghemat pengeluaran karena biaya hidup di sana tak semahal di Ibu Kota.

Namun, tetap saja ia harus menghidupi keluarga. Ia pun mulai mengandalkan penjualan secara daring walau tak bisa menutupi kerugian. Pasalnya, penjualan secara daring hanya lima persen jika dibandingkan omzetnya ketika berjualan di Tanah Abang pada masa normal. "Sekarang makin sulit lagi sejak stok barang mulai putus gara-gara supplier tutup," ujarnya.

Nasib karyawan tak kalah susah. Misalnya, Ilham Alzamar (25) yang merupakan barista di sebuah kedai kopi di Tebet, Jakarta Selatan.

Sejak PSBB mulai diterapkan, kedai kopi tempat ia bekerja mulai menyesuaikan kebijakan. Jam operasional diperpendek. Pelanggan tak diperkenankan lagi untuk menikmati kopi langsung di tempat, harus dibawa pulang.

Walhasil, jumlah karyawan yang masuk setiap hari pun mulai dikurangi. "Saya sekarang statusnya dijadikan pekerja harian. Dalam dua pekan, cuma dapat jatah masuk kerja sebanyak dua hari," ucapnya.

Cerita berbeda datang dari Pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB). Rian Alfianda (27) yang baru tiga bulan terakhir ditunjuk untuk mengelola sebuah kafe rintisan di Kota Mataram kini terpaksa menutup kafe tersebut karena minimnya penjualan. Terlebih, ia juga khawatir bakal terpapar Covid-19 di sana.

Rian kini terpaksa pulang ke kampung halamannya di Kabupaten Agam, Sumatra Barat. Tak lagi memiliki pekerjaan, ia kini hanya bekerja membantu-bantu usaha orang tua.

Cerita usaha rintisan yang berdarah-darah dihantam Covid-19 juga datang dari Sumatra Barat, yakni sebuah kedai kopi yang berlokasi di Kota Payakumbuh. Usaha milik Prima Nugraha (26) itu kini kehilangan omzet sekitar 65 persen karena minimnya penjualan sejak wabah melanda.

"Omzet per bulan sekarang hanya Rp 1,5 juta. Kalau seperti ini terus, ini usaha cuma bisa bertahan hingga 2 bulan ke depan karena sekarang sudah makan modal," ucapnya.

Selain usaha di ambang kebangkrutan, Prima juga harus menghadapi kenyataan ia masih memiliki utang ke bank. Pinjaman dalam bentuk kredit usaha rakyat (KUR) itu memang ia ambil dahulu untuk membuka usaha kedai kopi tersebut.

Menteri Koperasi dan UKM Teten Masduki pada Rabu (15/4) menyatakan pihaknya telah menyusun sembilan program untuk membantu pelaku koperasi serta usaha kecil mikro dan menengah (UMKM). Program itu di antaranya stimulus daya beli produk koperasi dan UMKM, program restrukturisasi dan subsidi suku bunga kredit usaha mikro, bantuan langsung tunai, serta pemberian Kartu Prakerja kepada pelaku usaha mikro yang paling riskan terdampak Covid-19.

Yuk koleksi buku bacaan berkualitas dari buku Republika ...
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA