Senin, 4 Syawwal 1439 / 18 Juni 2018

Senin, 4 Syawwal 1439 / 18 Juni 2018

Toleransi Beragama dalam Perang Topat

Senin 04 Desember 2017 22:16 WIB

Rep: Muhammad Nursyamsyi/ Red: Sadly Rachman

Pentas seni di acara tradisi Perang Topat di Lombok Barat, NTB

Foto: Republika/Muhammad Nursyamsi
EMBED

REPUBLIKA.CO.ID,LOMBOK BARAT -- Pemandangan tak biasa terjadi di Pura dan Kemaliq Lingsar, Kabupaten Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat (NTB) pada Ahad (3/12) sore. Umat Islam dan Hindu dari sejumlah wilayah di Lombok Barat datang memenuhi area pura untuk berperang.

Begitu bertemu, aksi saling lempar tak terelakkan. Anak-anak hingga orang tua larut dalam peperangan. Namun, tak ada darah, dan juga air mata. Perang ini justru menimbulkan gelak tawa dan rasa gembira. Perang yang dikenal dengan sebutan Perang Topat merupakan tradisi yang berlangsung turun-temurun dan masih terjaga hingga kini.

Sesaat sebelum prosesi perang dimulai, sebagian warga mengambil tempat di halaman Pura Gaduh, yang menjadi tempat persembahyangan umat Hindu. Sedangkan, sebagian lagi berada di halaman depan bangunan Kemaliq, yang disakralkan bagi sebagian masyarakat umat Islam.

Perang Topat merupakan tradisi budaya yang harus dilestarikan. Perang Topat merupakan wujud nyata toleransi kerukunan umat beragama di Lombok. Tradisi perang topat juga memiliki daya tarik bagi sektor pariwisata NTB.

Berikut video lengkapnya.

 

 

Videografer:
Muhammad Nursyamsyi

Video Editor:
Fian Firatmaja

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA