Tuesday, 14 Sya'ban 1441 / 07 April 2020

Tuesday, 14 Sya'ban 1441 / 07 April 2020

Tahun 1950 Sampai 1960-an Kalijodo Hanya Sebuah Permukiman Warga

Jumat 19 Feb 2016 17:32 WIB

Rep: Casilda Amilah/ Red: Sadly Rachman

Sejumlah warga memasang spanduk yang bertuliskan tuntutan ganti rugi atas penertiban permukiman di Kalijodo, Jakarta Utara, Kamis (18/2).

Foto: ANTARA
EMBED

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kalijodo memiliki sejarah keberadaan yang panjang. Tempat itu pernah menjadi salah satu pusat lokalisasi paling terkenal di Jakarta. Pada mulanya, sekitar tahun 1950 sampai 1960-an, Kalijodo hanya sebuah permukiman yang dihuni banyak orang. 

Sejarawan Alwi Shahab, atau yang akrab disapa Abah Alwi, menceritakan, awalnya hanya orang-orang biasa yang datang, tetapi lama-lama Kalijodo menjadi pusat lokalisasi. Kalijodo menjadi tempat mencari jodoh meskipun dengan cara tidak halal.

Penghuni Kalijodo kebanyakan berasal dari lokalisasi Planet Senen dan Kramak Tunggak (sekarang Islamic Center) yang telah digusur oleh Ali Sadikin ketika menjadi gubernur saat itu. Pemberontakan DI/TII yang terjadi ketika itu juga menyebabkan sejumlah warga di daerah memilih untuk mengadu nasib ke Jakarta. Hingga kemudian, Ibu Kota pun banyak dipenuhi pengemis. Abah Alwi mengatakan, menjadi pelacur di Jakarta adalah karena faktor ekonomi.

Pelanggan di Kalijodo merupakan orang-orang kelas menengah ke bawah. Tidak ada tarif khusus yang diberikan, pria hidung belang di sana akan memulai dengan tawar-menawar. Pemerintah di tingkat kelurahan saat itu juga dikatakannya ikut "nimbrung" mengelola Kalijodo, misalnya, dengan memungut pajak. Terkadang memang ada pembersihan, tapi Abah Alwi menilai pemerintah seperti bermain-main.

Abah Alwi mengatakan, masyarakat harus mendukung upaya pemerintah Jakarta membersihkan Kalijodo untuk kemudian dijadikan Islamic center, seperti di Kramat Tunggak. Berikut pemaparan lengkap Abah Alwi kepada Republika TV.

 

 

Video Editor: Casilda Amilah

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA