Wednesday, 11 Syawwal 1441 / 03 June 2020

Wednesday, 11 Syawwal 1441 / 03 June 2020

Permen dari Kulit Pisang Bisa Turunkan Kolesterol

Kamis 17 Jul 2014 15:23 WIB

Rep: Indah Wulandari/ Red: Yudha Manggala P Putra

Mahasiswa Fakultas Teknologi Pertanian Nisa Alfialasari memperagakan cara pembuatan ekstrak pektin dari limbah kulit pisang di Laboratorium Rekayasa dan Pengolahan Pangan Universitas Brawijaya, Malang, Jawa Timur, Rabu (17/7).

Mahasiswa Fakultas Teknologi Pertanian Nisa Alfialasari memperagakan cara pembuatan ekstrak pektin dari limbah kulit pisang di Laboratorium Rekayasa dan Pengolahan Pangan Universitas Brawijaya, Malang, Jawa Timur, Rabu (17/7).

Foto: Antara//Ari Bowo Sucipto

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Ekstrak zat pektin dari buah pisang bisa menjadi penyembuh penyakit kolesterol. Tiga mahasiswa Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Brawijaya Malang, Jawa Timur, berhasil mengolah skstrak dari sisa limbah kulit pisang itu menjadi permen lembut.

"Proses pembuatan pektin ini juga cukup mudah dan dapat dilakukan dengan menggunakan peralatan rumah tangga biasa," tutur salah satu mahasiswa Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Brawijaya (FTP Unibraw), Malang, Lukman Azis yang ikut tim riset.

Bersama dua temannyan Nisa Alfilasari dan Clara Arha, Lukman mengekstrasi limbah kulit pisang menjadi tepung yang dibentuk kembali menjadi permen kenyal (marshmallow).

Permen kenyal mengandung pektin ini kemudian diujicobakan pada tikus yang sudah diinjeksi kandungan kolesterol tinggi hingga menderita jantung koroner. Kandungan kolesterol pada tikus-tikus itu setelah makan marshmallow berpektin menyurut.

"Penelitian menunjukkan bahwa konsumsi pektin berbahan limbah kulit pisang selama dua minggu mampu menurunkan kadar kolesterol sampai 52 persen," jelas Lukman.

Riset ini, menurutnya, didasari fakta bahwa selama ini Indonesia mengimpor pektin hingga berton-ton setiap tahunnya. Padahal harga pektin mencapai Rp 1 juta per gramnya. Dengan mengekstrak pektin dari kulit pisang, bisa menekan harga pektin menjadi Rp 12 ribu per gram.

Berkat riset ini, Lukman dan rekan-rekannya ingin mempresentasikan penemuannya dalam konferensi ilmiah di suatu kampus di AS pada November 2014 nanti.

"Ini adalah penemuan terbaru, untuk dunia kesehatan. Selanjutnya kami bisa bekerjasama dengan pihak terkait industri pangan atau pengolahan obat ikut bantu kami agar bisa dipasarkan secara meluas oleh masyarakat umum," jelas Lukman.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA