Friday, 17 Sya'ban 1441 / 10 April 2020

Friday, 17 Sya'ban 1441 / 10 April 2020

Lembaga Global Sebut Akhir 2019 sebagai Dekade Terpanas

Kamis 16 Jan 2020 13:24 WIB

Rep: Rahma Sulistya/ Red: Dwi Murdaningsih

Gelombang panas

Gelombang panas

Foto: reuters
Tahun 2019 adalah suhu terpanas sejak 1850.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Tiga lembaga global telah mengkonfirmasi, 10 tahun terakhir ini hingga akhir 2019, adalah dekade terpanas. Menurut NASA, Noaa dan UK Met, tahun lalu adalah yang terpanas kedua yang pernah tercatat sejak terpanas pertama pada 1850.

Lima tahun terakhir ini adalah yang terpanas dalam 170 tahun, dengan rata-rata masing-masing lebih dari 1C lebih panas daripada pra-industri. UK Met mengatakan, 2020 kemungkinan akan masih berlanjut tren pemanasan ini. Walaupun 2016 tetap menjadi tahun terpanas, ketika suhu juga didorong oleh fenomena cuaca El Nino.

Data ini bukanlah kejutan besar, Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) memberi peringatan pada awal Desember 2019 lalu, kemungkinan 2019 adalah tahun akhir dekade terpanas sepanjang catatan. Met Office, yang terlibat dalam pencatatan data suhu HadCRUT4, mengatakan 2019 adalah 1,05C di atas rata-rata dalam periode dari 1850-1900.

Tahun lalu, dunia menyaksikan bagaimana dua gelombang panas besar menghantam Eropa pada Juni dan Juli. Cuaca itu memecahkan rekor nasional baru yakni 46 Celcius di Prancis pada 28 Juni. Catatan baru juga ditetapkan di Jerman, Belanda, Belgia, Luksemburg dan Inggris dengan suhu mencapai 38,7 Celcius. Di Australia, suhu rata-rata musim panas adalah rekor yang tertinggi lebih dari 1Celcius.

Baca Juga

Ketika sains bertabrakan dengan politik

Ketika suhu terus meningkat, upaya untuk menahan gas karbon penyebab suhu memanas justru terus goyah, apalagi sains bertabrakan dengan politik. Misalnya Inggris yang berjuang keras untuk menjadi tuan rumah konferensi iklim tahunan PBB pada akhir tahun kemarin, dimana semua negara akan didesak menuju pengurangan emisi. Perdana Menteri Inggris, Boris Johnson mengatakan, dia ingin Inggris memimpin dunia dalam perubahan iklim.

Tetapi dalam ujian pertama pemerintahan barunya, dia dituduh meninggalkan prinsip-prinsipnya. Dia berjanji untuk mempertimbangkan pemotongan pajak untuk penerbangan di Inggris. Ini akan berdampak dengan biaya penerbangan yang lebih ekonomis.

Ini bertentangan dengan saran resmi Komite Perubahan Iklim, yang mengatakan orang perlu terbang lebih sedikit, sehingga biaya penerbangan harus naik, bukan turun. Jenis pertukaran yang tidak nyaman ini akan menyebabkan keributan di seluruh dunia dalam beberapa dekade mendatang, apalagi perubahan iklim menghadirkan tantangan yang semakin meningkat bagi politik.

Sementara tiga lembaga penelitian yang berbeda semuanya memiliki angka yang sedikit berbeda selama 12 bulan terakhir. WMO telah melakukan analisis yang menggunakan data tambahan dari layanan perubahan iklim Copernicus dan Badan Meteorologi Jepang.

Mereka menyimpulkan bahwa pada 2019, dunia lebih hangat 1,1 Celcius dibandingkan periode pra-industri. WMO dan Badan Meteorologi Jepang sepakat, bahwa sejak 2015 hingga 2020 ini adalah lima tahun terpanas.

“Setiap dekade dari 1980-an berturut-turut lebih panas daripada semua dekade yang sebelumnya. Pada 2019 disimpulkan sebagai dekade 'kardinal' terpanas," kata salah seorang analis Met Office Hadley Center, Dr Colin Morice.

Para peneliti mengatakan, emisi karbon dari aktivitas manusia adalah penyebab utama kenaikan suhu berkelanjutan yang terlihat dalam beberapa tahun terakhir.

“Tingkat karbondioksida adalah yang tertinggi di atmosfer kita, yang pernah tercatat, dan ada hubungan pasti antara jumlah CO2 dan suhu. Kami melihat suhu global tertinggi dalam dekade terakhir, dan kami akan melihat lebih banyak tentang itu. Ketika CO2 terus tumbuh, kita akan melihat suhu global meningkat,” kata salah seorang analis Royal Meteorological Society, Prof Liz Bentley.

Data jangka panjang dari tiga lembaga berbeda dengan metodologi berbeda, memberi mereka kepercayaan terhadap keakuratan temuan mereka.

“Meskipun kita tahu bahwa aktivitas manusia menyebabkan pemanasan dunia, penting untuk mengukur pemanasan ini seakurat mungkin. Kami yakin, dunia telah memanas sekitar 1C sejak akhir abad ke-19. Karena berbagai metode untuk mengatasi suhu global, memberikan hasil yang sangat mirip,” kata Unit Penelitian Iklim Universitas Anglia Timur yang terlibat dalam pengumpulan data, Prof Tim Osborn.

Berbeda dari angka-angka yang dikeluarkan Met Office, Noaa dan NASA menunjukkan pencatatan suhu di permukaan darat dan laut. Jumlah pemanasan yang masuk ke laut juga masuk dalam rekor tertinggi.

Data yang diterbitkan pekan ini menunjukkan, rekor jumlah panas yang masuk ke lautan lebih besar dari tahun lalu. Ini adalah peningkatan terbesar dalam dekade terakhir.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA