Senin, 15 Safar 1441 / 14 Oktober 2019

Senin, 15 Safar 1441 / 14 Oktober 2019

Sejumlah Spesies Langka di Kalimantan Tengah Terancam Punah

Jumat 08 Mar 2019 18:02 WIB

Red: Reiny Dwinanda

Seekor anak orangutan dirawat di kantor Balai Konservasi Sumber Daya Alam Daerah Kalimantan Tengah di Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur, Rabu (30/3).

Seekor anak orangutan dirawat di kantor Balai Konservasi Sumber Daya Alam Daerah Kalimantan Tengah di Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur, Rabu (30/3).

Foto: Antara/Norjani
Penelitian memperlihatkan spesies langka di Kalimantan Tengah terancam punah.

REPUBLIKA.CO.ID, PALANGKARAYA -- Ketua Borneo Nature Foundation, Juliarta Bramansa Ottay, menyebut spesies langka di sejumlah wilayah Kalimantan Tengah terancam punah. Ia mengatakan, pernyataannya bukan sebatas klaim melainkan berdasarkan hasil penelitian.

"Melalui penelitian yang kami lakukan, terungkap keragaman satwa liar yang tinggi termasuk sejumlah spesies langka dan terancam," kata Juliarta Bramansa Ottay di Palangkaraya, Jumat.

Juliarta  menjelaskan, penelitian yang dilakukan tersebut meliputi bentang wilayah sungai Rungan yang berada Kota Palangkaraya, Kabupaten Gunung Mas dan Pulang Pisau. Dia mengatakan, melalui pengamatan kamera jebakan dan survei fauna, pihaknya berhasil mendokumentasikan sebanyak 34 spesies mamalia yang 19 di antaranya dilindungi oleh hukum dan 108 spesies pohon yang 12 di antaranya rentan dan terancam.

Kemudian sebanyak 118 spesies burung yang 27 di antaranya dilindungi oleh hukum, 20 spesies reptil dan amfibi yang 5 di antaranya dilindungi oleh hukum serta 20 spesies ikan. World Conservation Union mengklasifikasikan, dua dari spesies ini statusnya sangat terancam punah, yakni orangutan Kalimantan dan ibis berbahu putih.

Di samping itu, empat lainnya berstatus terancam punah dan 16 dalam kondisi rentan.

"Mereka semua menghadapi ancaman kepunahan yang tinggi di masa depan, makanya penting bagi kita untuk melestarikannya," katanya.

Juliarta menjelaskan, rangkaian penelitian berkualitas tinggi sengaja pihaknya lakukan untuk menyediakan informasi berbasis bukti ilmiah bagi pengelolaan dan strategi pelestarian serta pembuatan kebijakan di masa mendatang terhadap bentang alam Rungan. Penelitian difokuskan dalam bentuk identifikasi, deskripsi dan penelitian potensi konservasi serta menghasilkan rencana konservasi untuk wilayah tersebut bersama masyarakat, pemerintah, dan pihak terkait lainnya.

Sementara itu, pada penilaian kelayakan habitat dan populasi orangutan pada 2016 yang dilakukan KLHK dan FORINA, lanskap Rungan berada pada urutan ke-4 prioritas konservasi orangutan dengan proyeksi meta-populasi sebanyak 2.260 orangutan.

"Hutan Rungan merupakan salah satu lokasi populasi orangutan terbesar di dunia, berada di wilayah yang tidak dilindungi serta memiliki rencana alih lahan hutan," ungkap Juliarta

sumber : Antara
BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA