Tuesday, 4 Rabiul Akhir 1440 / 11 December 2018

Tuesday, 4 Rabiul Akhir 1440 / 11 December 2018

Kecerdasan Emosional Orang Tua Diwariskan ke Anak

Kamis 06 Dec 2018 12:12 WIB

Rep: Mutia Ramadhani/ Red: Esthi Maharani

Anak butuh dipeluk orangtuanya/ilustrasi

Anak butuh dipeluk orangtuanya/ilustrasi

Foto: sheknows.com
Kecerdasan emosional adalah kombinasi genetik dan lingkungan.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Sebagai orang tua, Anda sudah biasa mendengar kalimat orang lain tentang anak Anda, seperti "Matanya mirip mata ibunya," atau "Rambutnya tebal seperti ayahnya." Namun, bagaimana dengan kecerdasan emosional (EQ)?

Sejauh ini Anda hanya bisa menebaknya. Anda mungkin tak berpikir kecerdasan emosional orang tua dapat diwariskan ke anak. Studi baru dalam Journal of Adolescence membuktikan ini diwariskan dari generasi ke generasi.

Sekelompok peneliti mengambil sampel 152 keluarga yang  hidup bersama dengan anak-anak berusia 16-17 tahun. Ini berarti, jika Anda berharap membesarkan anak-anak dengan kecerdasan emosional baik, Anda harus fokus dulu pada kecerdasan emosional sendiri. Kecerdasan emosional adalah kombinasi genetik dan lingkungan. Selalu ada pengaruh orang tua membentuk kemampuan emosional anak.

"Akar kecerdasan emosional adalah kesadaran diri, atau mindfulness. Sebagai manusia, masing-masing kita memiliki kemampuan bawaan untuk menjadi cerdas secara EQ," kata Advokat kesehatan mental di Pittsburgh, Caroline Shannon Karasik, dilansir dari Mind Body Green, Kamis (6/12).

Pola pengasuhan orang tua harus menunjukkan welas asih, sembari menyadari dan mengendalikan perilaku sendiri saat membesarkan anak. Ini berarti Anda harus mulai berbicara ramah pada diri sendiri, memaafkan kesalahan sendiri, sehingga ini tidak hanya menguntungkan Anda, namun juga perilaku anak. Anak belajar melihat orang tuanya dalam jangka panjang.

Instruktur yoga bersertifikat, Erica Golub mengatakan orang tua bisa melatih anak-anaknya untuk menumbuhkan kesadaran diri lebih luas. Dia merekomendasikan permainan di mana setiap anggota keluarga bisa mengekspresikan berbagai emosi.

"Katakan, "Saya bahagia ketika..." dan diskusikan skenario permainannya. Semua orang bisa bergiliran mengungkapkan emosinya. Setelah selesai, ganti permainan dengan emosi lain, seperti "Saya sedih ketika..." Permainan kecil lain misalnya melihat wajah di cermin, sembari mengubah ekspresi wajah dan memberinya julukan, seperti happy monkey atau angry tiger. Ini membantu anak mengenali EQ mereka," kata Golub.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES