Tuesday, 4 Rabiul Akhir 1440 / 11 December 2018

Tuesday, 4 Rabiul Akhir 1440 / 11 December 2018

Meski Pahit Mengapa Sebagian Orang Tetap Minum Kopi?

Rabu 21 Nov 2018 11:12 WIB

Rep: Christiyaningsih/ Red: Ani Nursalikah

Kopi hitam

Kopi hitam

Foto: Republika/Amin Madani
Studi menemukan sensitivitas pada rasa pahit lebih dari sekadar soal rasa.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pilihan untuk tetap minum kopi kendati rasanya pahit rupanya dipengaruhi oleh faktor genetik. Studi menemukan sensitivitas pada rasa pahit lebih dari sekadar soal rasa. Akan tetapi, lebih karena adanya pengaruh genetik.

Demikian hasil penelitian yang dipublikasikan di jurnal Scientific Reports pada 15 November lalu. "Anda mengira orang yang sensitif pada rasa pahit akan lebih sedikit minum kopi," kata peneliti senior Marilyn Cornelis dikutip dari Live Science.

Walau rasanya pahit, namun mereka yang sensitif dengan rasa pahit justru minum lebih banyak kopi. Peneliti yang merupakan asisten profesor pengobatan preventif di Northwestern University Feinberg School of Medicine di Chicago ini mengungkapkan sebaliknya.

"Hasil yang berlawanan dari studi kami menandakan konsumen kopi memperoleh kemampuan mengecap rasa pahit dalam mendeteksi kafein. Ini karena belajar penguatan positif yang didapat dari kafein," jelasnya.

Orang yang punya kemampuan tinggi dalam mendeteksi rasa pahit kopi dan terutama pahit khas pada kafein belajar menghubungkan sesuatu yang bagus di dalamnya. Temuan ini mengejutkan karena umumnya pahitnya rasa kerap menimbulkan mekanisme peringatan agar orang memuntahkan sesuatu yang tidak enak.

Para peneliti mengadakan riset untuk memahami bagaimana genetik memengaruhi konsumsi orang terhadap teh, kopi, dan alkohol yang rasanya cenderung pahit. "Ketika semua rasa pahit nampak sama, kami menganggap pahitnya kubis Brussels, air tonik, dan kafein berbeda," ungkap ketua studi Jue Sheng Ong.

"Derajat kepahitan yang kami temukan ditentukan oleh gen Anda," ujar mahasiswa doktoral di Department of Genetics and Computational Biology di QIMR Berghofer Medical Research Institute di Brisbane, Australia ini.

Untuk menginvestigasi, para peneliti mengamati penyusun genetik dan konsumsi rasa pahit harian oleh 400 ribu orang dari Inggris. "Dengan menggunakan gen yang terhubung dengan kemampuan mengindera rasa pahit, kami bisa melakukan penilaian apakah orang yang sensitif rasa pahitnya tinggi akan memilih kopi atau teh," kata Ong.

Hasil menunjukkan orang dengan gen mendeteksi rasa pahit dari sayuran hijau atau air tonik akan cenderung memilih teh dan menghindari kopi. Sementara itu, orang dengan gen pendeteksi pahit pada sayuran hijau cenderung tidak menyukai alkohol terutama anggur merah. Temuan ini bisa lebih diperdalam lagi untuk meneliti tentang kecanduan alkohol.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES