Jumat, 8 Rabiul Awwal 1440 / 16 November 2018

Jumat, 8 Rabiul Awwal 1440 / 16 November 2018

Berkubang di Lumpur, Cara Gajah Mendinginkan Kulit

Senin 22 Okt 2018 20:52 WIB

Rep: Santi Sopia/ Red: Ichsan Emrald Alamsyah

Gajah di Taman Nasional Kruger di Afrika.

Gajah di Taman Nasional Kruger di Afrika.

Foto: abc
Gajah Afrika tak memiliki kelenjar keringat seperti mamalia lain

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Bukan tanpa alasan mengapa gajah Afrika dikenal paling sering berkubang dalam kumpur. Salah satu tujuannya, mendinginkan kulit secara alami.

Dilansir Sciencedaily, Senin (22/10), memang gajah Afrika tidak memiliki kelenjar keringat dan sebum seperti mamalia lain guna menjaga kulit mereka tetap lembab dan lentur. Namun, hewan bertubuh besar ini diberi keistimewaan lain.

Karena ukuran tubuh yang besar dan habitat mereka yang hangat dan kering, kulit gajah Afrika dapat terhindar dari panas berlebihan hanya dengan keluarnya kalori melalui penguapan air yang mereka kumpulkan di dalam kulit mereka.

Dengan berkubang dalam lumpur, gajah Afrika menghindari paparan berlebihan terhadap kulit mereka dari radiasi matahari. Tujuan lain gajah berkubang do lupur juga hendak menghindari berbagai ancaman.

Para peneliti di Universitas Jenewa (UNIGE), Swiss, dan SIB Swiss Institute of Bioinformatics melaporkan dalam jurnal Nature Communications bahwa saluran kulit gajah Afrika adalah fraktur dari lapisan kulit terluar hewan yang rapuh dan deskuamasi-defisiensi. Para ilmuwan menunjukkan bahwa kulit gajah yang mengalami hiperkeratinisasi menyebabkan fraktur karena tekanan dari dalam.

Inspeksi rapat pada kulit gajah Afrika berguna meminimalisasi masuknya lumpur ke dalam kulit gajah. Pola jutaan saluran yang indah itu memungkinkan penyebaran dan retensi 5 hingga 10 kali lebih banyak daripada permukaan yang datar. 

Jaringan yang tampak rumit itu terlihat pada permukaan kulit gajah. Saluran mikrometer ini sangat membantu gajah mengatur suhu tubuhnya. 

Sampel kulit gajah Afrika turut diteliti para ilmuwan dan disimpan di museum Swiss, Prancis dan Afrika Selatan. Tim multidisiplin penelitian dipimpin oleh Michel Milinkovitch, profesor di Departemen Genetika dan Evolusi dari Fakultas Sains UNIGE dan Pemimpin Kelompok di Institut Bioinformatika Swiss SIB. 

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES