Friday, 8 Rabiul Awwal 1440 / 16 November 2018

Friday, 8 Rabiul Awwal 1440 / 16 November 2018

Ilmuwan Temukan Enzim Pengurang Hasrat Merokok

Kamis 18 Oct 2018 16:01 WIB

Rep: Nora Azizah / Red: Ichsan Emrald Alamsyah

Penjual melayani pembeli rokok di Jakarta, Rabu (19/9).

Penjual melayani pembeli rokok di Jakarta, Rabu (19/9).

Foto: Antara/Muhammad Adimadja
Cara kerja enzim adalah merusak nikotin sebelum bisa mencapai otak

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Sebuah kabar baru datang dari dunia bagi para perokok. Berdasarkan pemberitaan di laman Newsmax Health, ilmuwan dikabarkan telah menemukan enzim jenis baru yang bisa mengurangi hasrat untuk merokok. Enzim tersebut bisa meminimalisir keinginan nikotin bagi perokok.

Penelitian dilakukan ilmuwan dari Scripps Research Institute, La Jolla California, Amerika Serikat (AS). Studi dilakukan dengan memberi enzim pada tikus yang bergantung pada nikotin. Enzim tersebut kemudian berhasil merusak nikotin di dalam aliran darah sebelum bisa mencapai otak.

Ternyata enzim bisa dengan cepat mengurangi ketergantungan nikotin pada tikus. Bahkan enzim juga mencegahnya untuk kambuh saat memiliki akses kembali pada nikotin. "Ini menjadi pendekatan menarik agar dapat mengurangi ketergantungan nikotin tanpa rasa berat," ujar Prof Olivier George selaku peneliti utama.

Tidak hanya itu, enzim bekerja pada aliran darah, bukan pada otak. Hal tersebut menyebabkan enzim menimbulkan efek samping yang minim. Ketergantungan nikotin telah membuat orang begitu sulit meninggalkan rokok. Pencegahan nikotin pads tembakau diharapkan bisa menjadi cara menjanjikan demi mengurangi ketergantungan.

Enzim yang diuji pada penelitian bernama NicA2-J1. Enzim ini terproses secara alami yang diproduksi oleh bakteri Pseudomonas Putida. Namun enzim telah dimodifikasi untuk meningkatkan potensi, waktu tinggal di dalam darah, dan fitur lain untuk melawan ketergantungan nikotin.

Para peneliti terus berencana meningkatkan sifat enzim dengan tujuan akhir bisa menguji klinis pada manusia. Namun dari penelitian ini perlu dicatat, pengujian pada hewan tidak seluruhnya bisa berhasil untuk manusia. 

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES