Jumat, 10 Safar 1440 / 19 Oktober 2018

Jumat, 10 Safar 1440 / 19 Oktober 2018

LAPAN: Indonesia Kunci Sistem Iklim dan Atmosfer Dunia

Rabu 19 Sep 2018 19:00 WIB

Rep: Zuli Istiqomah/ Red: Dwi Murdaningsih

Kepala Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) Thomas Djamaludin memberikan sambutan pada acara International Conference On Tropical Meteorology and Atmospheric Sciences, di Aula Barat Kampus ITB, Jalan Ganeca, Kota Bandung, Rabu (19/9). Konferensi Sains dan Atmosfer Tingkat Internasional ini bertujuan untuk menguatkan kolaborasi internasional dalam bidang riset dan edukasi, khususnya dalam bidang meteorologi tropis dan sains atmosfer.

Kepala Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) Thomas Djamaludin memberikan sambutan pada acara International Conference On Tropical Meteorology and Atmospheric Sciences, di Aula Barat Kampus ITB, Jalan Ganeca, Kota Bandung, Rabu (19/9). Konferensi Sains dan Atmosfer Tingkat Internasional ini bertujuan untuk menguatkan kolaborasi internasional dalam bidang riset dan edukasi, khususnya dalam bidang meteorologi tropis dan sains atmosfer.

Foto: Republika/Edi Yusuf
Dinamika atmosfer di wilayah Indonesia sangat kompleks.

REPUBLIKA.CO.ID, BANDUNG -- Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) dan Institut Teknologi Bandung (ITB) menggelar konferensi internasional bertajuk 'International Conference on Tropical Meteorology and Atmospheric Science (ICTMAS)'. Konferensi yang diikuti berbagai perwakilan negara ini diadakan pada 19 – 20 September 2018 di ITB, Kota Bandung.

Konferensi ini dinilai sangat penting bagi dunia internasional khususnya Indonesia. Indonesia dianggap para ahli atmosfer di tingkat dunia merupakan wilayah kunci di dalam sistem iklim dan atmosfer global.

Kepala LAPAN, Thomas Djamaluddin mengatakan Indonesia memainkan peran utama dalam menggerakan variabilitas atmosfer global dari skala harian hingga dekade. Hal ini melihat kondisi geografis Indonesia yang terdiri dari daratan dan lautan.

"Distribusi daratan dan lautan di bumi ini yakni daratan lebih banyak ada di utara dan lautan di selatan. Pola distribusi panas ini menyebabkan adanya musim. Kekhasan indoensia buka daratan penuh tapi pulau yang disatukan lautan makanya disebut Benua Maritim," kata Thomas dalam konferensi persnya di Aula Barat ITB, Rabu (19/9).

Menurutnya Benua Maritim ini memiliki aspek-aspek yang dapat berpengaruh untuk memprediksi kondisi atmosfer di dunia. Suhu permukaan laut Indonesia pun bisa mempengaruhi cuaca sama halnya pengaruh dari anomali akibat pemanasan di Samudera Hindia dan Pasifik.

"Makanya ada Year of Maritim Continent juga yang mempelajari dinamika atmosfer darat laut udara di Indonesia," ujarnya.

Namun demikian, kata dia, kemampuan prediksi cuaca dan iklim di wilayah ini masih kurang dibandingkan dengan di wilayah sub-tropis karena dinamika atmosfer di wilayah ini sangat kompleks. Apalagi Indonesia tergolong masih kekurangan teknologi dalam pemantauan atmosfer yang membutuhkan peralatan canggih.

Kepala BMKG Dwikorita Karnawati mengatakan tantangan dalam menyikapi persoalan atmosfer dan Indonesia sebagai kunci wilayah ialah pengembangan teknologi. Padahal sebagai benua maritim, Indonesia harus banyak mengembangkan pengetahuan mengenai atmosfer bumi melalui riset untuk dapat memprediksi kondisi ke depannya.

Menurut Dwikorita, pentingnya pemahaman mengenai atmosfer bumi adalah menyangkut pada keselamatan penduduk dunia. Karena fenomena alam tidak bisa dicegah tapi bisa diantisipasi.

"Agar penduduk bumi selamat kita perlu melakukan riset inovasi, agar kita survive. Pilihannya inovation or die. Kalau nggak inovasi kita nggak selamat," katanya.

Ia mengatakan untuk mengeksplorasi hal tersebut dibutuhkan alat-alat pemantauan dengan teknologi tinggi. Sehingga bisa didapatkan ilmu-ilmu pengetahuan mengenai benua maritim seperti halnya ilmu terkait benua atau samudera lainnya yang sudah banyak ditemukan.

"Karena masih kurangnya pengamatan tadi sehingga data-data tentang Benua Maritim masih minim dibanding tentang benua dan samudera. Padahal dengan kurangnya infomari di benua maritim itu seluruh astmofer bumi ini jadi mising. Sehingga analisanya tidak lengkap," ucap dia.

Menyikapi hal tersebut, ia pun mengatakan BMKG dan pihak-pihak terkait mencari alternatif lain agar tetap bisa bekerja memantau dan melakukan penelitian berkaitan perkembangan sains dan atmosfer bumi. Pihaknya terus melakukan analisis dan riset menggunakan data global yang bisa menjadi instrumen data analitik.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA