Sunday, 13 Muharram 1440 / 23 September 2018

Sunday, 13 Muharram 1440 / 23 September 2018

Plastik Terkena Sinar Matahari Sumbang Gas Rumah Kaca

Kamis 02 August 2018 13:27 WIB

Rep: Christiyaningsih/ Red: Ani Nursalikah

Sampah-sampah plastik yang telah dipilah petugas di bank sampah. (Ilustrasi)

Sampah-sampah plastik yang telah dipilah petugas di bank sampah. (Ilustrasi)

Foto: Republika/Putra M. Akbar
Gas rumah kaca secara langsung berpengaruh pada perubahan iklim.

REPUBLIKA.CO.ID, HAWAII -- Sampah plastik tak hanya mencemari lingkungan karena susah diuraikan. Lebih dari itu, sampah plastik yang terpapar sinar matahari ternyata berkontribusi menambah produksi gas rumah kaca yang kemudian dirilis ke atmosfer bumi.

Hal itu terungkap setelah kelompok peneliti dari University of Hawaii melakukan sejumlah riset. Hasil riset yang dipublikasikan di jurnal PLOS One pada Rabu (1/8), menyebut semakin banyak limbah plastik yang terkena cahaya matahari, semakin banyak pula gas rumah kaca yang dihasilkan. Metana dan etilen umumnya dihasilkan dari degradasi natural aneka sampah plastik.

Polietilen, polimer yang biasa digunakan dalam kantong plastik, adalah biang keladi utama yang menghasilkan polutan di atmosfer. Para peneliti mengetes polikarbonat, akrilik, polipropilen, polietilen tereftalat (PET), polistiren, high-density polyethylene (HDPE), dan low-density polyethylene (LDPE). Plastik-plastik tersebut biasa digunakan dalam pembuatan pipa plastik, pengemasan makanan, kantong plastik, dan tekstil.

Dikutip dari Daily Mail, polietilen yang terdapat pada kantong plastik memproduksi dan menyebarkan polimer sintetis terbanyak. Bahan ini juga merupakan emiter metana dan etilen yang ikut berkontribusi dalam memperburuk perubahan iklim.

Diaktifkan lewat radiasi matahari, proses pelepasan gas rumah kaca dari plastik tersebut tetap akan berlangsung kendati hari sudah gelap. "Plastik merepresentasikan jejak sumber gas rumah kaca. Diprediksi volume gas rumah kaca itu semakin meningkat seiring naiknya produksi dan sampah plastik di lingkungan," kata ilmuwan senior dari University of Hawaii di Manoa School of Ocean and Earth Science and Technology, Profesor David Karl.

Produksi plastik yang dimulai sejak 70 tahun lalu diprediksi akan meningkat dua kali lipat dalam waktu dua dekade ke depan. Sifat plastik yang tahan lama dan hemat biaya produksi menjadi daya tarik perusahaan untuk terus membuatnya. Sementara itu dampak buruk akibat sampah plastik terhadap organisme dan ekosistem masih kerap diabaikan.

Tim peneliti juga menemukan emisi gas rumah kaca dari butiran murni LDPE dalam eksperimen selama 212 hari. Demikian diungkapkan ketua tim peneliti Sarah-Jeanne Royer dari The Centre for Microbial Oceanography di Hawaii University. Dia juga menyatakan mikroplastik yang punya ukuran lebih kecil saat terdegradasi bisa mempercepat produksi gas rumah kaca.

Gas rumah kaca secara langsung berpengaruh pada perubahan iklim. Akibatnya, suhu bumi meningkat sehingga es di kutub mencair lebih cepat. Perubahan iklim juga memicu terjadinya banjir, kekeringan, dan erosi.

"Dengan mempertimbangkan jumlah sampah plastik yang sudah menumpuk di garis pantai serta bagaimana sampah-sampah itu merusak lingkungan, penelitian kami membuktikan bahwa kita harus menghentikan sumber produksi plastik. Terutama penggunaan plastik sekali pakai," jelas Royer.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA