Senin, 9 Zulhijjah 1439 / 20 Agustus 2018

Senin, 9 Zulhijjah 1439 / 20 Agustus 2018

Ilmuwan Ungkap 'Gangguan' Aurora di Jupiter

Senin 16 Juli 2018 11:17 WIB

Red: Dwi Murdaningsih

Aurora di Jupiter. (ilustrasi)

Aurora di Jupiter. (ilustrasi)

Foto: science alert
Io dan Ganymede 'mengganggu' aurora di Jupiter.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Misi pesawat luar angkasa Juno telah mengirimkan beberapa informasi penting tentang atmosfer, medan magnet dan pola cuaca gas di Jupiter sejak Juno tiba di orbit sekitar planet raksasa itu pada Juli 2016. Setiap melewati orbit yang terjadi per 53 hari sekali atau dikenal sebagai perijoves, Juno telah mengungkapkan hal-hal tentang Jupiter.

Hasil informasi dari Juno ini akan digunakan oleh para ilmuwan untuk mempelajari lebih lanjut tentang pembentukan planet dan evolusinya. Yang menarik, beberapa informasi terbaru menyebutkan bagaimana dua bulan (satelit)-nya mempengaruhi salah satu fenomena atmosfer paling menarik di Jupiter.

Terbaru, tim peneliti internasional menemukan bagaimana satelit Jupiter, yaitu Io dan Ganymede meninggalkan 'jejak kaki' di aurora planet. Penemuan ini dapat membantu para astronom untuk lebih memahami Jupiter dan satelitnya. Sama seperti aurora di Bumi, aurora Jupiter terjadi di atmosfer yang lebih tinggi ketika elektron berenergi tinggi berinteraksi dengan medan magnet planet yang sangat kuat.

Namun, probe Juno baru-baru ini menunjukkan menggunakan data yang dikumpulkan oleh Ultraviolet Spectrograph (UVS) dan Jovian Energetic Particle Detector Instrument (JEDI) bahwa medan magnet Jupiter secara signifikan lebih kuat daripada di Bumi.

Selain memiliki kekuatan 10 hingga 30 kali lebih besar dari medan magnet tersesar di Bumi (mencapai 400 ribu elektron volt), badai aurora selatan dan selatan Jupiter juga mengalami 'gangguan' berbentuk oval yang muncul setiap kali Io dan Ganymede lewat dekat dengan Jupiter.

"Aurora berbentuk oval di utara dan selatan yang terlihat dikelilingi oleh fitur emisi kecil yang berhubungan dengan (satelit) Galilea. Kami melakukan pengamatan inframerah dengan pesawat ruang angkasa Juno, menunjukkan bahwa dalam kasus Io, emisi ini menunjukkan pola berputar-putar yang serupa dalam jalan'von Kármán vortex'," ujar penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Science.

Jalan von Kármán vortex' adalah konsep dalam dinamika fluida. Pada dasarnya ini merupakan pola berulang dari pusaran pusaran yang disebabkan oleh gangguan. Tim menemukan bukti dari pusaran yang mengalir ratusan kilometer ketika Io melewati planet, tetapi kemudian menghilang ketika Io bergerak menjauh dari planet.

Tim juga menemukan dua titik di sabuk aurora yang dibuat oleh Ganymede, di mana ekor diperpanjang dari tempat aurora utama akhirnya terbelah dua. Tim belum yakin apa yang menyebabkan perpecahan ini. Mereka berspekulasi bahwa itu bisa disebabkan oleh interaksi antara Ganymede dan medan magnet Jupiter. Untuk informasi Ganymede adalah satu-satunya bulan Jupiter yang memiliki medan magnetnya sendiri). Fitur ini menunjukkan interaksi magnetik antara Jupiter dan Ganymede lebih kompleks daripada yang diperkirakan sebelumnya.

Sebagai informasi, Jupiter memiliki 67 satelit. Empat satelit yang terbesar yakni Io, Europa, Ganymede, dan Callisto. Empat satelit ini dikenal juga dengan satelit Galilea karena ditemukan oleh astronom Galileo Galilei pada tahun 1610.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA