Selasa, 4 Rabiul Akhir 1440 / 11 Desember 2018

Selasa, 4 Rabiul Akhir 1440 / 11 Desember 2018

Pembangunan Observatorium di NTT Butuh Dana Rp 400 Miliar

Senin 09 Jul 2018 22:53 WIB

Red: Dwi Murdaningsih

Kepala Lembaga Antariksa dan Penerbangan Nasional (LAPAN) Thomas Jamaludin menjelaskan proses kerja roket (Foto: Yasin Habibi/Republika)

Kepala Lembaga Antariksa dan Penerbangan Nasional (LAPAN) Thomas Jamaludin menjelaskan proses kerja roket (Foto: Yasin Habibi/Republika)

Foto: Yasin Habibi/Republika
Observatorium Timau di NTT ditargetkan rambung 2019.

REPUBLIKA.CO.ID, KUPANG -- Pembangunan Observatorium Nasional di pegunungan Timau, Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT), sebagai observatorium terbesar di Asia Tenggara menelan anggaran sebesar Rp 400 miliar.  Kepala Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan), Thomas Jamaludin mengatakan pembangunan fasilitas Observatorium Nasional Timau dengan dana yang dialokasikan melalui APBN.

Proses pembangunan observatorium Timau yang dibangun di pingir lereng pegunungan Timau sekitar 200 km arah Timur Kota Kupang itu akan rampung dikerjakan pada akhir 2019. "Itu targetnya," kata dia, Senin (9/7).

Ia menjelaskan tiga pertimbangan bagi Lapan untuk menetapkan kawasan Timau sebagai lokasi pembangunan Observatorium Nasional Timau. Pertama, wilayah NTT secara umum merupakan wilayah yang memiliki malam cerahnya banyak karena musim kemarau sangat panjang.

Kawasan pegunungan Timau serta wilayah Amfoang Tengah masih jauh dari perkotaan sehingga mampu bertahan selama puluhan tahun sebagai kawasan langit gelap untuk mendukung pengamatan astronomi.

"Artinya langit yang gelap harus tetap terjaga dan jauh dari polusi udara sehingga proses pengamatan astronomi dilakukan secara maksimal," ujar Thomas.

Keberadaan Observatorium Nasional Timau tidak sebatas tujuan ilmiah untuk kepentingan edukasi publik, namun diharapkan kehadiran fasilitas itu untuk pemberdayaan masyarakat.

"Kami juga mengusulkan kawasan Timur sebagai kawasan langit gelap untuk menjaga konservasi langit malam agar tetap terjaga untuk kepentingan penelitian astronomi yang membutuhkan langit gelap," lanjutnya.

Masyarakat Amfoang akan diberdayakan melalui penetapan kawasan Timau sebagai lokasi wisata khas yang tidak dimiliki daerah lain di Indonesia. Ia berharap masyarakat Amfoang untuk tidak menyalakan listrik malam hari hingga keluar rumah, karena dapat berpengaruh pada proses pengamatan astronomi.

"Kami tidak melarang menyalakan listrik malam hari namun tidak menyalakan listrik hingga ke luar rumah karena memiliki dampak pada kualitas pengamatan astronomi," tegasnya.

Ia menyebutkan,guna mendukung pembangunan Observatorium Nasional di Timau akan dilengkapi satu teleskop optik berdiameter 3,8 meter yang sedang dalam proses pengerjaan di Jepang. "Pada tahun ini teleskopnya sudah selesai dikerjakan sehingga bisa ditempatkan di Timau," kata Thomas.

Sumber : antara
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES