Wednesday, 16 Muharram 1440 / 26 September 2018

Wednesday, 16 Muharram 1440 / 26 September 2018

Tak Perlu Kulkas, Begini Cara Orang Persia Kuno Membuat Es

Senin 09 July 2018 18:19 WIB

Red: Dwi Murdaningsih

Lubang es yang digunakan orang zaman kuno untuk menyimpan es selama berbulan-bulan.

Lubang es yang digunakan orang zaman kuno untuk menyimpan es selama berbulan-bulan.

Foto: realclearscience
Orang Persia kuno membuat es dengan prinsip night sky cooling.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Saat ini membuat es begitu mudah. Anda hanya perlu menempatkan air di lemari pendingin. Tapi, kira-kira bagaimana bisa mencapai titik beku tanpa lemari pendingin?

Pertanyaan ini sudah terjawab 2.000 tahun lalu, di padang pasir. Bagaimana caranya?

Dilansir dari Realclearscience, pada sore hari, orang-orang Persia dan orang-orang kuno lainnya di Timur Tengah akan menuangkan air di kolam batu panjang. Air dituangkan di tempat yang dangkal tidak lebih dari satu atau dua kaki (sekitar 60 cm). Mereka akan kembali ke kolam tepat sebelum cahaya pertama pada keesokan paginya untuk menemukan air membeku. 

Mereka kemudian mengumpulkan es dan menyimpannya di dalam lubang es. Di dalam kubah berongga dan berinsulasi ini terdapat lubang bawah tanah di mana es bisa disimpan selama berbulan-bulan.

Rumah Kuno 4.500 Tahun Ditemukan Dekat Piramida Giza

Suhu padang pasir di malam hari jarang jatuh di bawah titik beku. Namun kaum Timur Tengah kuno berhasil membuat es. Rahasianya adalah sebuah proses yang dikenal sebagai 'pendinginan langit malam' atau night sky cooling.

Pada malam hari, padang pasir yang kering tanpa awan dengan luasnya hamparan mengakibatkan panas dapat dengan mudah memancar dari zat seperti air. Panas hilang ke angkasa. Begitu banyak panas yang dapat memancar dari air yang dapat terbentuk es pada suhu sekitar 41 derajat Fahrenheit.

Profesor Aaswath Raman, seorang ahli fisika dan insinyur terapan di University of Pennsylvania, menjelaskan prosesnya secara lebih rinci pada TED 2018. Dia mengatakan kolam air mengirimkan panas dari air sebagai cahaya. Ini adalah konsep yang dikenal sebagai radiasi panas.

"Atmosfer dan molekul-molekul di dalamnya menyerap sebagian panas itu dan mengirimkannya kembali. Tapi inilah hal yang kritis untuk dimengerti. Atmosfer kita tidak menyerap semua panas itu. Pada panjang gelombang tertentu, khususnya antara 8 dan 13 mikron, atmosfer kita memiliki apa yang dikenal sebagai jendela transmisi," kata dia.

Jendela ini memungkinkan beberapa panas yang naik sebagai cahaya inframerah untuk secara efektif membawa panas dari kolam itu. Alhasil, air yang ada di kolam itu mampu mengirimkan lebih banyak panas ke langit daripada langit mengirimkan kembali ke sana. Dan karena itu, kolam akan mendingin di bawah suhu sekitarnya.

Kini, dengan prinsip tersebut, Rahman sekarang berusaha membuat material yang memainkan prinsip-prinsip yang sama untuk mencakup bangunan, sistem pendingin, dan panel surya. Bahan-bahan ini yang dibuat akan akan memancarkan panas ke ruang angkasa pada siang hari ketika matahari bersinar, sehingga sangat mengurangi permintaan listrik untuk operasi pendinginan listrik di bumi. Lemari pendingin menyumbang 17 persen dari listrik yang digunakan di seluruh dunia.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA