Thursday, 6 Zulqaidah 1439 / 19 July 2018

Thursday, 6 Zulqaidah 1439 / 19 July 2018

Para peneliti ungkap Ilusi 'Yanny' atau 'Laurel'

Kamis 17 May 2018 16:30 WIB

Rep: Farah Noersativa/ Red: Friska Yolanda

mendengar (ilustrasi)

mendengar (ilustrasi)

Foto: pixabay
Ilusi ini mirip seperti ilusi vas Rubin yang lebih dulu viral.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Sudah pernah mendengar ilusi 'Yanny or Laurel' yang viral akhir-akhir ini? Sejumlah figur publik sempat bermain dengan warganet untuk menebak sebuah rekaman suara seseorang, apakah rekaman itu berbunyi 'Yanny' atau 'Laurel'.

Dilansir di Livescience, peneliti audiovisual David Alais dari Universitas Sydney mengatakan ilusi ini memang dimaksudkan untuk menjadi ambigu, atau memiliki banyak arti ketika orang mendengar ilusi ini. Kemungkinan, ilusi ini akan bermuara pada kecerdasan otak.

“Otak terkunci pada interpretasi perseptual tunggal. Di sini, suara Yanny atau Laurel dimaksudkan menjadi ambigu karena setiap suara memiliki waktu yang sama dan memiliki konten energi yang sama. Sehingga pada prinsipnya, itu bisa dibingungkan,” ujar Alais.

Alais, yang juga mempelajari persepsi audiovisual, menambahkan ilusi ini kemudian menyoroti seberapa kuat otak mampu menjadi penafsir aktif input sensorik. Sehingga dengan demikian memberikan pandangan,yakni dunia luar lebih kurang objektif daripada yang dipercaya.

Para peneliti lalu menyamakan ilusi suara ini dengan ilusi gambar yang secara visual berarti ambigu yang sebelumnya telah beredar. Ilusi gambar yang disebut 'vas Rubin' itu bisa ditafsirkan sebagai gambar dua orang yang sedang berhadapan, atau gambar sebuah vas.

photo

Vas Rubin

Dalam kasus 'Yanny atau Laurel' ini, otak manusia memainkan trik pada manusia itu sendiri. Yaitu, memainkan harapan manusia yang mendengarnya tentang apa yang ingin didengar, dengan apa  yang manusia dapat dari luar, yakni dorongan memilih “Yanny” ataU “Laurel.

Selain mengirimkan petunjuk pendengaran penting ke otak, telinga pun memainkan peran dalam interpretasi 'Yanny' atau 'Laurel'.  Menurut seorang ahli saraf kognitif dari Universitas Maastricht di Belanda, Lars Riecke, setiap suara terdiri dari beberapa frekuensi, dan suara yang terdengar menyebut 'Yanny' lebih tinggi daripada suara 'Laurel'.

“Pengeras suara yang digunakan dapat mengubah frekuensi, mengarah ke interpretasi yang berbeda,” kata dia.

Namun, menurutnya, bentuk telinga dan usia orang yang mendengarnya, juga bisa memainkan peran. Dia menyatakan, seiring bertambahnya usia, manusia mulai kehilangan kemampuan untuk mendengar suara yang lebih tinggi, sehingga mereka lebih mungkin mendengar 'Laurel'.

Sementara, seorang psikolinguistik dari Universitas Teknologi Nanyang, Suzy Styles menyatakan bentuk saluran dan frekuensi yang dihasilkan yang keluar ketika seseorang berbicara adalah karena penempatan lidah.  "Kecuali pembicara ini memiliki dua bahasa yang benar-benar terpisah, pidato yang ambigu ini dibuat dengan hati-hati untuk menipu telinga,” kata Styles.

Namun, kabarnya, jika speaker dilakukan modifikasi dengan menghapus frekuensi tinggi, maka suara yang akan terdengar adalah 'Laurel'. Sebaliknya yang dihapus adalah frekuensi yang lebih rendah, maka suara yang akan terdengar adalah 'Yanny'.

Kalau kalian dengar 'Yanny' atau 'Laurel'?

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA TERKAIT

BERITA LAINNYA