Sunday, 18 Zulqaidah 1440 / 21 July 2019

Sunday, 18 Zulqaidah 1440 / 21 July 2019

Gerhana Bulan Total Bisa Disaksikan di Papua Barat

Rabu 31 Jan 2018 15:44 WIB

Red: Nidia Zuraya

Gerhana Bulan Total atau Super Blue Blood Moon. Ilustrasi

Gerhana Bulan Total atau Super Blue Blood Moon. Ilustrasi

Foto: Express.co.uk
Fenomena ini dapat diamati kembali di Indonesia 36 tahun yang akan datang.

REPUBLIKA.CO.ID, MANOKWARI -- Gerhana bulan secara total yang akan terjadi malam ini, Rabu (31/1), dapat disaksikan masyarakat di wilayah Provinsi Papua Barat. Kepala Stasiun Geofisika Sorong Andri Wijaya Bidan dalam siaran pers, Rabu mengatakan Super Blue Blood Moon merupakan fenomena alam langka dan spesial.

"Karena gerhana bulan super moon" dan "blue moon" akan terjadi pada waktu yang sama yaitu pada nanti malam," ucapnya.

Pihaknya akan melakukan pemgamatan di Kota Sorong malam ini, dan masyarakat Papua Barat dapat mengamati puncak gerhana bulan total ini sekitar pukul 22:29,8 WIT. Pihaknya memprakirakan kondisi cuaca pada 31 Januari umumnya pada pagi hari hingga sore hari cerah berawan. Pada malam hari Kota Sorong dan sekitarnya berpotensi terjadi hujan lokal.

Suhu udara berkisar antara 26:32 derajat celsius dengan kelembaban udara berkisar antara 65 persen:95 persen. Arah angin bertiup dari barat hingga utara dengan kecepatan 5:30 km/jam.

Ia menjelaskan, dampak dari fenomena ini akibat gaya grafitasi bulan dengan matahari, maka diimbau kepada masyarakat untuk mewaspadai tinggi pasang maksimum air laut mencapai 1,5 meter. Pasang air laut ini akan memberi dampak terganggunya transportasi di sekitar pelabuhan dan pesisir, aktivitas petani garam dan perikanan darat, serta kegiatan bongkar muat di pelabuhan.

Selain itu, kata dia, Fenomena ini juga dapat mengakibatkan surut minimum mencapai -100-110 cm yang terjadi pada 30 Januari-1 Februari 2018 di Pesisir Sumatra Utara, Sumatra Barat, Selatan Lampung, utara Jakarta, utara Jawa Tengah, utara Jawa Timur, dan Kalimantan Barat.

"Fenomena langka ini tentunya sangat disayangkan bila dilewati begitu saja, mengingat periode terjadinya akan berulang lebih dari 100 tahun untuk wilayah Amerika," katanya.

Di wilayah Indonesia, lanjutnya, fenomena ini dapat diamati kembali untuk 36 tahun yang akan datang.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA