Minggu, 8 Zulhijjah 1439 / 19 Agustus 2018

Minggu, 8 Zulhijjah 1439 / 19 Agustus 2018

Arkeolog Temukan 'Kuburan Beku' Berusia 2.800 Tahun

Kamis 18 Januari 2018 11:14 WIB

Red: Dwi Murdaningsih

Gundukan yang berisi kuburan beku.

Gundukan yang berisi kuburan beku.

Foto: University of Bern via live science

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Arkeolog yang melakukan studi di Siberia selatan mengidentifikasi gundukan pemakaman beku. Para peneliti menduga, gundukan pekuburan ini berisi kuburan bangsawan Scythia.

Kubruan yang diduga berusia lebih dari 2.800 tahun ini berukuran lebih lebar dari panjang lapangan sepak bola. Ilmuwan menduga, ini bisa jadi merupakan kuburan tertua dan terbesar di kawasan ini.

Scythia adalah pengembara berkuda yang mendominasi hamparan luas stepa dan padang rumput Eurasia tengah sekitar abad kesembilan SM hingga ekitar abad pertama SM. Mereka dikenal sebagai pejuang yang menakutkan.

Orang-orang Scythia tidak membangun permukiman apa pun. Mereka meninggalkan gundukan penguburan besar, yang diisi dengan perhiasan emas, senjata, cangkir yang dihias dengan indah dan barang-barang kuburan lainnya. Karena banyak dari gundukan ini dibangun di atas tanah yang dingin secara permanen, beberapa penguburan membeku seiring berjalannya waktu. Arkeolog bahkan telah menemukan mumi es Scythia.

Ilmuwan Temukan Gua Bawah Laut Terpanjang di Dunia

Sejak tahun 1970an, para arkeolog telah menggali beberapa gundukan pemakaman, yang disebut 'kurgan', di Lembah Uyuk di Tuva, sebelah barat laut Mongolia. Daerah ini kadang-kadang disebut 'Lembah Para Raja' Siberia, merujuk pada tempat di mana Firaun dikuburkan selama 500 tahun di Mesir kuno.

Gundukan bisa berdiameter lebih dari 330 kaki (100 meter). Selama penggalian di gundukan yang dikenal sebagai Arzhan 2 pada awal tahun 2000an, arkeolog menemukan sebuah makam yang utuh dari seorang pria dan wanita tergabung berdampingan. Di antara keduanya ditemukan lebih dari 9.000 benda emas.

Gino Caspari, seorang arkeolog di University of Bern, mencari melalui citra satelit beresolusi tinggi di sekitar rangkaian makam ini. Dia mengidentifikasi struktur melingkar di tengah rawa sepanjang Sungai Uyuk. Dari gambar tersebut, Caspari bisa melihat bahwa gundukan itu mungkin memiliki struktur yang terbuat dari balok kayu atau balok kayu di bawah lapisan batu yang tebal.

Ekspedisi Swiss-Rusia kemudian melakukan perjalanan ke lokasi pada tahun 2017. Menurut laporan terbaru mereka di jurnal Archaeological Research in Asia, tim menemukan bahwa 'kuburan beku' tampaknya telah diselamatkan dari penjarahan karena lokasinya yang sulit diakses.

"Kurgan bisa diraih dengan menempuh lima jam perjalanan yang sulit dengan kendaraan off-road dari pemukiman terdekat," kata Caspari dalam sebuah pernyataan dari Swiss National Science Foundation, yang mendanai penelitian tersebut, dilansir dari Live Science.

Tim mengambil sampel kayu dari gundukan tersebut. Melalui pengujian radiokarbon, mereka mengetahui bahwa balok ini berasal dari abad kesembilan SM, menjadikannya salah satu yang tertua di wilayah ini. Mereka juga mengukur gundukan tersebut dan menemukan diameternya membentang 460 kaki (140 m).

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA