Monday, 6 Sya'ban 1441 / 30 March 2020

Monday, 6 Sya'ban 1441 / 30 March 2020

NASA Umumkan Misi Terbaru Mereka untuk Mendarat ke Titan

Ahad 24 Dec 2017 16:34 WIB

Rep: Eko Supriyadi/ Red: Winda Destiana Putri

Planet Titan. Ilustrasi

Planet Titan. Ilustrasi

Foto: News.co.au

REPUBLIKA.CO.ID, WASHINGTON -- Stasiun luar angkasa Amerika, NASA, umumkan rencana misi terbaru mereka, Rabu (20/12). Dalam misi tersebut, NASA berencana mendaratkan Quadcopter, kendaraan luar angkasa untuk mengumpulkan sampel nukleus dari komet di bulan Saturnus, Titan.

Kedua proposal tersebut dipilih dari kelompok 12 yang diserahkan ke program New Frontiers, demi mendukung misi sains planet tingkat menengah. Proposal pertama, disebut Dragonfly, akan menjadi proyek yang belum pernah terjadi sebelumnya untuk mengirim robot terbang ke bulan yang tak dikenal.

Dilengkapi dengan instrumen yang mampu mengidentifikasi molekul organik besar, quadcopter akan dapat terbang ke beberapa lokasi sejauh ratusan mil untuk mempelajari lanskap di Titan. Bulan Saturnus yang besar dan dingin ini memiliki atmosfer, danau dan metana  yang tebal.

Ilmuwan percaya, samudra yang berair dapat diintip di bawah kerak bekunya. ''Ini adalah lingkungan yang kita tahu memiliki bahan untuk kehidupan. Dengan Dragonfly, kita bisa mengevaluasi seberapa jauh kimia prebiotik telah berkembang,'' kata penyidik utama Elizabeth Turtle, seorang peneliti di Laboratorium Fisika Terapan Johns Hopkins, dikutip dari Sciencealert.

Eksplorasi Astrobiologi Komet Sample Return, atau CAESAR, akan berputar kembali ke komet 67P / Churyumov-Gerasimenko, yang dikunjungi oleh pesawat ruang angkasa Rosetta European Space Agency dari tahun 2014 sampai 2016. Setelah bertemu dengan batu ruang angkasa seukuran gunung Fuji, CAESAR akan menyedot sampel dari permukaannya dan mengirimkannya kembali ke Bumi, di mana akan tiba pada bulan November 2038.

NASA telah mengambil sampel komet sebelumnya, dari misi Stardust yang mengumpulkan debu dari bagian luar komet, yang disebut 'koma'. Tapi ini akan menjadi misi pertama untuk mengembalikan materi dari permukaan es komet. ''Komet adalah salah satu objek yang paling penting secara ilmiah di tata surya, tapi juga paling tidak dipahami," kata peneliti Cornell University Steve Squyres, ketua penyelidik misi tersebut.

Periset percaya, komet mengirimkan air dan molekul organik pada awal mula Bumi, yang berpotensi berkontribusi pada asal-usul kehidupan. Sampel permukaan dari 67P / Churyumov-Gerasimenko akan mencakup molekul 'volatil' berharga yang mudah berubah menjadi gas, namun penting untuk memahami sejarah dan bagian aslinya.

Misi sekarang memasuki tahap studi konsep, ketika ilmuwan yang terlibat dapat mengembangkan proposal mereka lebih lanjut. Seleksi terakhir akan dilakukan pada bulan Juli 2019, dan pesawat ruang angkasa yang dipilih akan diluncurkan sekitar tahun 2025.

Proposal New Frontiers lainnya termasuk misi untuk mempelajari Saturnus, Venus atau asteroid di sekitar Jupiter, atau menyelidiki bulan Saturnus lainnya, Enceladus. Dua dari proposal tersebut juga dipilih untuk pengembangan teknologi lebih lanjut, Enceladus Life Finder, yang akan mencari penanda aktivitas biologis pada geyser yang keluar dari bulan Saturnus, dan Investigasi Komposisi Venus In situ, yang merupakan pesawat antariksa NASA pertama. Untuk melakukan eksplorasi Venus secara mendalam membutuhkan waktu hampir 30 tahun.

NASA memiliki tiga misi New Frontiers yang sudah dalam penerbangan, New Horizons, yang terbang melewati Pluto pada tahun 2015, Juno, yang mengorbit Jupiter, serta OSIRIS REx, sebuah pesawat ruang angkasa yang menuju ke asteroid Bennu yang akan mengirim kembali sampel dari permukaan batu pada bulan September 2023.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA