Saturday, 7 Zulhijjah 1439 / 18 August 2018

Saturday, 7 Zulhijjah 1439 / 18 August 2018

Perubahan Iklim Picu Penerbangan Makin Menyeramkan

Kamis 13 April 2017 08:19 WIB

Rep: Novita Intan/ Red: Winda Destiana Putri

Ilustrasi penerbangan

Ilustrasi penerbangan

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA - Tim ilmuwan Universitas Reading, Inggris menyebut perubahan iklim akan membuat penerbangan semakin menyeramkan. Sebab, hasil studi menyebutkan perubahan iklim akan meningkatkan insiden turbulensi.

Seperti dikutip Sciencealert, melihat hasil studi tersebut tim ilmuwan mengingatkan kepada otoritas dan maskapai penerbangan, bahwa tim menemukan adanya peningkatan turbulensi di koridor penerbangan Atlantik Utara, yang meliputi wilayah udara Eropa dan Amerika Utara. Turbulensi ringan diproyeksikan akan meningkat rata-rata 50 persen, turbulensi sedang meningkat 75 persen, turbulensi moderat meningkat 94 persen, dan turbulensi hampir parah meningkat 127 persen, serta turbulensi parah meningkat 149 persen.

Peneliti mengatakan, penyebab kenaikan turbulensi itu, karena naiknya karbon dioksida atmosfer. Tingkat karbon dioksida akan mengubah arus jet di penerbangan Atlantik Utara. “Kami lebih fokus pada turbulensi parah, sebab jenis ini akan menyebabkan orang masuk rumah sakit,” ujar peneliti Universitas Reading, Paul Williams.

Dalam studinya, William menguji 21 karakteristik yang berhubungan dengan angin penyebab ragam kategori turbulensi. Salah satunya, yaitu kecepatan angin dan perubahan arah aliran udara. Bahkan, ia menuturkan, dalam 50 tahun, jika tidak ada upaya untuk mengurangi konsentrasi karbon dioksida atmosfer, volume turbulensi ringan akan meningkat sampai 59 persen, dan turbulensi parah meningkat dari 36 sampai 188 persen.

William menekankan, ke depan, turbulensi parah memang tetap akan jarang terjadi. Namun, turbulensi ringan yang meningkat akan membuat pilot bekerja keras dan pesawat membutuhkan bahan bakar yang lebih untuk menghindari area turbulensi.

Ia memang membatasi area studinya pada Atlantik Utara dan hanya pada musim dingin saja, sebab di masa tersebut merupakan kalender turbulensi tertinggi. Hasil studi William itu menunjukkan, peningkatan suhu global bisa menyebabkan perubahan aliran udara atmosfer, pergeseran arus udara utama, atau arus jet.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA