Sabtu, 30 Jumadil Awwal 1441 / 25 Januari 2020

Sabtu, 30 Jumadil Awwal 1441 / 25 Januari 2020

Ini Alasan Mengapa Potongan Lagu Terperangkap di Otak Kita

Jumat 04 Nov 2016 06:35 WIB

Rep: Kabul Astuti/ Red: Ani Nursalikah

Mendengarkan musik

Mendengarkan musik

Foto: Mentalfloss

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Sebagian lagu tetap lekat menempel di ingatan kita, meski sudah lama tidak pernah kita dengar. Ahli musik menyebutnya sebagai 'earworms', ​​sebuah fenomena terperangkapnya potongan musik yang dimainkan secara berulang oleh otak kita meskipun musik tersebut tak lagi dimainkan.

Sebuah studi baru, yang diterbitkan dalam jurnal Psychology of Aesthetics, Creativity, and the Arts menjelaskan mengapa hal ini terjadi. Ada tiga faktor di dalam sebuah komposisi musik yang ditengarai membuat suatu lagu lebih gampang lekat di ingatan dibanding yang lain.

"Kami tertarik karena itu semacam fenomena umum. Orang bilang lagu tertentu lebih catchy daripada yang lain, tapi tidak ada banyak bukti ilmiah tentang topik (ini)," kata Kelly Jakubowski, seorang ahli psikologi musik di Universitas Durham, Inggris yang sudah mendedikasikan dirinya mempelajari 'earworm' sepanjang waktu, dilansir dari CNN, Jumat (4/11).

Diperkirakan, 90 persen dari kita mengalami 'earworm' setidaknya sekali sepekan, beberapa orang bahkan lebih sering. Tim riset Jakubowski mengidentifikasi tiga alasan utama mengapa fenomena ini terjadi. Ini berkaitan dengan kecepatan, bentuk melodi, dan beberapa interval khusus yang membuat sebuah lagu menonjol.

Jakubowski menyatakan, hasil penelitian ini merupakan temuan baru. Sebuah lagu tidak boleh terlalu sederhana, juga tidak boleh terlalu rumit supaya gampang diingat. Terkait kecepatan, lagu-lagu yang gampang diingat ini kebanyakan cenderung cepat dari sisi tempo dan irama.

Bentuk atau kontur musik umumnya sederhana secara struktur, tetapi mempunyai pola ritmis. Suara naik di satu bagian, kembali turun rendah, kemudian naik kembali membentuk pola, seperti Twinkle, Twinkle, Little Star. Banyak sajak dibuat sesuai dengan pola ini untuk membantu anak-anak lebih gampang mengingat.

"Kontur melodi yang cukup sederhana bisa membantu otak mengingat hal-hal ini," kata Jakubowski. Selain itu, dibutuhkan beberapa interval yang tidak biasa dalam lagu lekat di ingatan. Cukup untuk menimbulkan beberapa kejutan menarik di telinga pendengar, sembari tetap mempertahankan keseragaman pola sederhana secara keseluruhan.

"Meskipun melodi secara keseluruhan memiliki bentuk yang sederhana, Anda akan menemukan beberapa interval yang unik. Jadi itu sederhana namun berbeda." kata Jakubowski. Temuan ini banyak menyita perhatian ahli saraf dan musisi.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA