Monday, 9 Zulhijjah 1439 / 20 August 2018

Monday, 9 Zulhijjah 1439 / 20 August 2018

Pencarian 100 Tahun, Ilmuwan Buktikan Gelombang Gravitasi Einstein

Jumat 12 February 2016 07:48 WIB

Red: Dwi Murdaningsih

Albert Einstein

Albert Einstein

Foto: ist

REPUBLIKA.CO.ID, Setelah mencari selama 100 tahun, tim fisikawan internasional akhirnya berhasil mengonfirmasi keberadaan gravitasi Einstein. Penemuan ini menandai terobosan di bidang astrofisika terbesar abad lalu. Penemuan ini adalah sebuah pertanda baik sebab bisa membuka cara pandang mengenai alam semesta.

Sinyal gelombang gravitasi terdeteksi oleh fisikawan di observatorium LIGO pada 14 September tahun lalu. Pengumuman bersejarah ini baru saja diumumkan pagi ini, Jumat (12/2). Para ahli mengatakan temuan ini berpotensi diganjar hadiah Nobel bagi penemunya. Gelombang gravitasi menarik karena merupakan buah dari teori relativitas Einstein yang harus dikonfirmasi. Dengan gelombang ini membantu ilmuwan memahami bagaimana alam semesta terbentuk.

Menurut teori Einstein, ketika peristiwa besar terjadi seperti penggabungan dua lubang hitam, atau bintang yang meledak bisa terdeteksi sebagai sebuah gelombang gravitasi. Ini sama seperti jika seseoramg menjatuhkan batu ke dalam sebuah kolam. "Gelombang gravitasi mirip seperti gelombang suara yang merambat melalui ruang angkasa pada kecepatan cahaya," kata peneliti gravitasi David Blair, dari University of Western Australia.

Lalu, apa artinya penemuan gelombang gravitasi? Sama seperti terobosan yang dilakukan dengan berbagai penemuan seperti sinar X, gelombang radio. Dengan penemuan gelombang gravitasi, ilmuwan nantinya memiliki cara pandang baru untuk memahami alam semesta.

Ilmuwan mendeteksi gelombang gravitasi dengan LIGO, laser interferometer gravitational wave observatory. Laboratorium LIGO bekerja dengan memantulkan laser secara bolak balik di dalam dua pipa sepanjang 4 km. Percobaan ini memungkinkan ilmuwan untuk mengukur perubahan yang sangat kecil dalam ruang dan waktu.

Pada 14 September 2015 lalu, mereka mendeteksi perubahan yang relatif besar dari tempat mereka meneliti di laboratorium Livingston di Lousiana dengan apa yang disebut sinyal 'blip' dalam sistem. Sekitar 7 milidetik kemudian, mereka mendeteksi 'blip' yang sama dengan laboratorium mereka di Hanford, Washington yang berjarak 4.000 km jauhnya. 'Blip' yang sama ini disebabkan oleh gelombang gravitasi yang melewati di bumi.

Selama itu, sejak buan September peneliti mempelajari sinyal ini untuk melihat apakah mungkin sinyal tersebut disebabkan oleh hal lain. Namun, peneliti akhirnya menyimpulkan bahwa sinyal 'blip' tersebut disebabkan oleh gelombang gravitasi. Penemuan ini memiliki statistik yang signifikan dari 5,1 sigma. Artinya, hanya ada 1 dari 6 juta kemungkinan yang hasilnya adalah kebetulan. Bahkan, sinyal ini hampir sesuai dengan apa yang diprediksikan para ilmuwan berdasarkan teori Einstein.

Dari mana gelombang gravitasi ini berasal? Para ahli fisika mengatakan gelombang gravitasi ini mampu digunakan untuk melacak penggabungan dua lubang hitam di sekitar 1,3 miliar tahun yang lalu. Namun, temuan ini hanyalah awal dari gelombang gravitasi. Obervaorium akan kerus melakukan penelitian dan mendeteksi radiasi gravitasi dengan lebih sensitif dalam lima tahun ke depan. Sama seperti gelombang radio yang bisa digunakan untuk mendeteksi sejarah alam semesta, ilmuwan nanti bisa melakukan hal yang sama dengan gelombang gavitasi. Penelitian ini dipublikasikan dalam Physical Review Letters.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA