Sunday, 8 Zulhijjah 1439 / 19 August 2018

Sunday, 8 Zulhijjah 1439 / 19 August 2018

Hasil Studi Ilmuwan: Sampah Plastik di Bumi Terlalu Banyak

Ahad 24 January 2016 16:36 WIB

Rep: Qommarria Rostanti / Red: Nur Aini

Sampah botol plastik bekas air mineral. (ilustrasi).

Sampah botol plastik bekas air mineral. (ilustrasi).

Foto: ANTARA/Aditya Pradana Putra

REPUBLIKA.CO.ID,LEICESTER -- Sebuah studi internasional mengungkapkan sejak perang dunia kedua, manusia telah membuat sampah plastik yang melapisi bumi. Aktivitas manusia saat ini memiliki dampak perusakan pada bumi.

Penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Anthropocene menunjukkan bahwa tidak ada bagian dari planet ini terbebas dari sampah plastik. Di mana-mana tercemar sisa wadah air, tas supermarket, nilon, filter rokok, compact disc, dan barang yang terbuat dari plastik lainnya. Ada yang dalam bentuk biji-bijian mikroskopis, dan bongkahan. Dampaknya sering sangat merusak.

Penulis utama studi tersebut, Profesor Jan Zalasiewicz dari Leicester University mengatakan hasil penelitian yang diperolehnya sangat mengejutkan. Manusia telah telah membuat peningkatan jumlah berbagai jenis plastik (dari Bakelite ke kantong plastik untuk PVC)  selama 70 tahun terakhir. Namun para peneliti tidak tahu seberapa jauh sampah tersebut telah melakukan putaran perjalanan di planet ini. "Ternyata bukan hanya telah mengapung di lautan, tetapi telah tenggelam ke bagian terdalam dasar laut. Ini bukan pertanda bumi berada dalam kondisi sehat dan baik," ujar Zalasiewich seperti dilansir dari The Guardian, Ahad (24/1).

Titik penting temuan penelitian ini adalah plastik harus dianggap sebagai penanda zaman baru. Zalasiewicz, yang merupakan ketua kelompok ahli geologi, menilai apakah kegiatan kemanusiaan membuat bumi menuju zaman geologi baru yang disebut Anthropocene sekaligus mengakhiri zaman Holocene yang dimulai sekitar 12 ribu tahun lalu.

Sebagian besar ilmuwan percaya Anthropocene telah dimulai. Beberapa kegiatan manusia pascaperang dapat mengubah geologi. Secara khusus, isotop radioaktif yang dilepaskan oleh bom atom meninggalkan sinyal kuat di tanah yang akan memberitahu peradaban masa depan bahwa sesuatu yang aneh sedang terjadi. Selain itu, peningkatan karbondioksida di lautan, pembuatan besar beton, dan meluasnya penggunaan aluminium juga disinyalir sebagai faktor yang menunjukkan kelahiran Anthropocene.

Zalasiewicz mengatakan planet ini perlahan-lahan ditutupi plastik. Secara total, lebih dari 300 juta ton plastik diproduksi setiap tahun. Pada 1950, plastik hampir tidak ada sama sekali. "Ini adalah kenaikan yang luar biasa," kata Zalasiewicz. Jumlah total plastik yang diproduksi sejak perang dunia kedua sekitar 5 miliar ton dan sangat mungkin mencapai 30 miliar pada akhir abad ini.

Dalam beberapa kasus, satwa liar menyesuaikan diri dengan penyebaran plastik. Sebagai contoh, di pulau seperti Diego Garcia, kelomang atau umang-umang menggunakan botol plastik sebagai rumah. Namun sebagian besar plastik berdampak bahaya pada bagi satwa liar. Mulai dari burung laut hingga kura-kura pernah tenggelam atau tersedak sampai mati karena sampah plastik. "Kita sangat lamban menurunkan sampah plastik sehingga akan terjebak dengan masalah ini untuk waktu lama," kata Zalasiewicz.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA