Thursday, 15 Zulqaidah 1440 / 18 July 2019

Thursday, 15 Zulqaidah 1440 / 18 July 2019

Twitter Dinilai Gagal Lindungi Korban Pelecehan Daring

Rabu 13 Feb 2019 11:04 WIB

Red: Indira Rezkisari

Twitter

Twitter

Foto: EPA
Twitter tuai kritikan atas pesan pelecehan hingga berita pelecehan yang tak akurat.

REPUBLIKA.CO.ID, CALIFORNIA -- Direktur Eksekutif Twitter Inc Jack Dorsey, Rabu (13/2), mengatakan bahwa perusahaan-perusahaan teknologi di Silicon Valley, termasuk perusahaannya, belum melakukan upaya yang cukup untuk melindungi korban pelecehan daring. Dorsey juga menyebut hal itu sebagai kegagalan besar.

Baca Juga

Dalam wawancara melalui Twitter dengan Kara Swisher, Dorsey berkicau bahwa dia akan memberi perusahaannya nilai C sebagai tanggapan atas pertanyaan Swisher terkait tanggung jawab teknologi. Swisher adalah salah satu pendiri laman berita teknologi Recode.

"Kami membuat kemajuan, tapi tidak terfokus, dan masih belum cukup," tulisnya sebagai tanggapan atas pertanyaan Swisher. "Mengubah pengalaman masih belum bermakna. Dan kami masih menempatkan sebagian besar beban kepada para korban pelecehan (itu kesalahan besar)," tulisnya.

Twitter dan jejaring media sosial Facebook Inc. telah menuai kritikan atas pesan-pesan pelecehan, akun palsu, dan pemberitaan yang tidak akurat di layanan mereka. Twitter telah melakukan investasi besar untuk memperbaiki hal yang Dorsey gambarkan sebagi kesehatan bersama Twitter.

Dorsey mengatakan bahwa ia tidak menyukai cara Twitter, yang cenderung memicu kemarahan, menghadirkan pola pikir jangka pendek, menjadi ruang yang menggemakan, dan memotong-motong pembicaraan. Selain itu, menurut Dorsey, kurangnya keragaman di Twitter Inc. juga tidak menyelesaikan permasalahan itu.

Menurut dia, upaya Twitter untuk bekerja melawan otomatisasi dan kampanye terkoordinasi, bekerja sama dengan sejumlah lembaga pemerintah membuat perusahaan itu berada di posisi yang lebih baik dalam memerangi ancaman kesalahan informasi dalam pemilu presiden AS 2020 mendatang. Sejumlah badan intelijen AS sebelumnya melaporkan bahwa Rusia menggunakan media sosial untuk membuat bingung para pemilih. Moskow, di sisi lain, membantah tuduhan itu.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA