Wednesday, 19 Sya'ban 1440 / 24 April 2019

Wednesday, 19 Sya'ban 1440 / 24 April 2019

Daftar Media Sosial Perlu Diperbaiki di 2019

Sabtu 29 Dec 2018 13:50 WIB

Rep: Santi Sopia/ Red: Esthi Maharani

Media sosial

Media sosial

Foto: Republika/Agung Supriyanto
Terdapat media sosial yang dianggap paling membutuhkan perbaikan

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Perkembangan teknologi bagai pisau yang bisa bermanfaat sekaligus menjadi bumerang. Di samping berbagai keuntungan yang ditawarkan, namun pengguna teknologi, khususnya media sosial tetap perlu waspada.

Dilansir Channel News Asia, terdapat media sosial yang dianggap paling membutuhkan perbaikan. Dalam setahum terakhir ini, dirangkum sejumlah media sosial yang dianggap perlu diperbaiki di tahun depan.

Pertama, Facebook tahun ini dianalogikan sebagai pasangan romantis yang berselingkuh. Facebook dianggap mengkhianati pengguna, lalu meminta maaf dan kemudian mengkhianati penggunanya lagi beberapa pekan kemudian.

Jejaring sosial itu mengakui bahwa Cambridge Analytica, sebuah perusahaan konsultan politik, telah secara tidak benar memperoleh akses data jutaan pengguna. Kemudian, perusahaan mengakui bahwa pelanggaran keamanan telah mengekspos data 30 juta akun. Bulan ini, penyelidikan New York Times mengungkapkan bahwa Facebook memberi raksasa teknologi seperti Netflix dan Spotify akses khusus ke data pengguna, termasuk pesan pribadi.

Media sosial lain, Twitter juga mendapat kecaman karena lambat bereaksi terhadap Alex Jones, seorang ahli teori konspirasi yang secara teratur menyebarkan informasi yang salah, termasuk penembakan sekolah Sandy Hook yang ternyata bohong. Bahkan setelah Facebook, Apple, YouTube, dan yang lainnya mengambil konten Jones pada awal Agustus, Twitter mengatakan postingannya tidak melanggar kebijakan perusahaan. Setelah beberapa pekan lagi, Twitter melarang Jones dalam menanggapi laporan perilaku kasar.

YouTube Google, yang sejak lama dipuja sebagai tempat bagi orang-orang untuk berbagi video musik, resep makanan, dan proyek perbaikan rumah DIY, juga mengalami tahun yang sulit. Situs berbagi video ini mengatakan telah menghapus 39 saluran yang terkait dengan kampanye disinformasi Iran.

Intinya, perusahaan media sosial menunjukkan bahwa mereka hampir tidak bisa dipercaya soal data dan masih berusaha untuk menangani semua masalah. Sayangnya, tidak ada solusi sederhana untuk masalah seperti ujaran kebencian dan informasi yang salah (hoax). Selain itu, menjaga kerahasiaan informasi pengguna bukan diperlukam perbaikan demi kepentingan banyak perusahaan yang menggunakan data pengguna untuk dijadilan target iklan digital.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA