Sunday, 29 Sya'ban 1442 / 11 April 2021

Sunday, 29 Sya'ban 1442 / 11 April 2021

Identitas Digital Dijual Seharga Ratusan Ribu di Dark Web

Sabtu 10 Nov 2018 16:16 WIB

Rep: Christyaningsih/ Red: Friska Yolanda

Hacker (ilustrasi)

Hacker (ilustrasi)

Foto: pixabay
Meskipun dihargai murah, data ini dapat dipakai untuk kejahatan lain.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Meskipun banyak dari kita pernah mendengar, atau bahkan menjadi korban kejahatan dunia maya seperti pencurian data dan identitas, tampaknya sedikit yang tahu seberapa besar nilai informasi yang dicuri tersebut. Sebuah studi baru dari Kaspersky Lab menunjukkan berapa harga sebuah identitas digital. 

Identitas digital kita mungkin tidak bernilai banyak jika diuangkan. Namun, identitas ini merupakan aset penting bagi para pelaku kejahatan siber yang dapat digunakan dengan cara lain.

Penelitian ini juga menemukan selera para pelaku kejahatan siber yang melakukan pencurian data dari layanan populer termasuk di antaranya melalui akun media sosial dan akses jarak jauh ke situs web game. Para pengguna yang kebingungan atas seberapa besar nilai data pribadinya, menyebabkan mereka melakukan pendekatan yang asal-asalan terhadap keamanan. Sehingga, para pencuri dapat dengan mudah mencuri data dan melakukan kejahatan lainnya.

Data yang dicuri karena lemahnya kesadaran pengguna akan keamanan mungkin bernilai jual tidak seberapa. Namun, bisa dimanfaatkan dengan banyak cara. Hal ini dapat menyebabkan masalah besar bagi individu karena berakibat kehilangan uang dan reputasi atau dikejar pembayaran utang yang timbul atas nama individu. Padahal utang dilakukan oleh orang lain. Penyalahgunaan data digital bahkan bisa menyebabkan seseorang dicurigai melakukan kejahatan yang tidak dilakukan karena identitasnya dicuri sebagai kedok.

Kaspersky Lab menyelidiki pasar Dark Web untuk mencari tahu berapa besar nilai data pribadi. Penyelidikan juga bertujuan mengetahui bagaimana data tersebut digunakan oleh para pelaku kejahatan siber. Peneliti menemukan pelaku dapat menjual kehidupan digital seseorang yang lengkap dengan harga kurang dari 50 dolar AS atau setara Rp 734 ribu.

Identitas digital yang dijual termasuk data dari akun media sosial yang dicuri, rincian perbankan, akses jarak jauh ke server atau desktop. Bahkan data tersebut juga mencakup layanan populer seperti Uber, Netflix, dan Spotify. Situs gim, aplikasi kencan, dan situs porno yang mungkin menyimpan informasi kartu kredit juga tak lepas dari incaran. 

Sementara itu, para peneliti menemukan bahwa harga satu akun yang diretas bernilai lebih rendah, dengan sebagian besar harga penjualan berkisar di 1 dolar AS per akun. Bahkan pelaku juga menawarkan diskon untuk pembelian dengan jumlah banyak.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA