Thursday, 7 Rabiul Awwal 1440 / 15 November 2018

Thursday, 7 Rabiul Awwal 1440 / 15 November 2018

Kiat Sehat Gunakan Medsos Menurut Praktisi

Jumat 08 Jun 2018 14:11 WIB

Rep: Christiyaningsih/ Red: Yudha Manggala P Putra

Ketagihan media sosial (ilustrasi)

Ketagihan media sosial (ilustrasi)

Foto: Yibada
Media sosial hal baik asal bijak menggunakannya.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Media sosial telah merevolusi cara manusia berkomunikasi. Kehadiran Facebook pada tahun 2005 yang kemudian diikuti kelahiran platform media sosial lain seperti Twitter, Instagram, dan Snapchat membuat orang kian lekat dengan internet.

Medsos tak hanya membuat manusia lebih mudah terhubung akan tetapi juga menimbulkan masalah baru yakni kecanduan medsos. Tak sedikit orang yang mengecek gawainya berkali-kali dalam sehari demi mengecek aktivitas di akun medsosnya.

Menurut praktisi internet Nukman Luthfie, medsos adalah hal yang baik asalkan kita bijak menggunakannya. Untuk menjaga agar aktivitas bermedsos tetap sehat, Nukman memberikan sejumlah kiat.

Pertama, batasi waktu penggunaan medsos. "Kalau misalnya sehari empat jam bermain medsos, kurangilah menjadi dua jam sehari. Gunakan lebih banyak waktu untuk bersosialisasi secara langung," ungkapnya.

Kedua, manfaatkan medsos untuk fokus mengikuti konten-konten yang meningkatkan karier dan wawasan. "Kurangi menuliskan komentar-komentar buruk di medsos. Ikutilah akun-akun yang menunjang karier atau produktivitas kita," kata Nukman.

Ketiga, jangan terbawa suasana 'panas' yang tercipta di medsos. Ia mencontohkan banyaknya perdebatan soal politik yang bermunculan di medsos antar warganet.

"Debat di medsos tidak membuat kita menjadi hebat. Biasakan menulis atau meninggalkan komentar di bidang yang benar-benar kita kuasai," saran pria 53 tahun ini. Akan lebih baik jika komentar atau postingan yang diunggah bisa memberikan perspektif baru bagi warganet lainnya.

Keempat, alangkah baiknya kita tidak menempatkan diri hanya sebagai penikmat obrolan medsos tetapi naik ke level yang lebih tinggi yakni content provider. Tentunya, konten yang disajikan adalah yang bermuatan positif.

"Berubahlah menjadi produsen konten di media sosial seperti menulis blog atau membuat saluran Youtube yang bisa menambah wawasan warganet," ujar Nukman.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA