Thursday, 7 Rabiul Awwal 1440 / 15 November 2018

Thursday, 7 Rabiul Awwal 1440 / 15 November 2018

Kejahatan Ransomware Kian Meningkat, Apa Penyebabnya?

Jumat 08 Jun 2018 09:08 WIB

Rep: Eko Supriyadi/ Red: Ichsan Emrald Alamsyah

Ransomware

Ransomware

Cina menjadi sumber utama aktivitas penyerangan ke Eropa, Timur Tengah, dan Afrika,

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Laporan Dimension Data menunjukkan tahun 2017 terjadi peningkatan mengkhawatirkan terkait kejahatan ransomware dan serangan siber. Pada tahun 2017, terjadi serangan ransomware dengan kenaikan yang tinggi sekitar 350 persen, mewakili tujuh persen dari total serangan malware di seluruh dunia.

Angka ini naik dari satu persen pada tahun 2016 dan diperkirakan akan berlanjut menyusul popularitas kampanye penanggulangan siber yang tengah berlangsung. Tercatat, 20 persen serangan itu menargetkan sektor bisnis dan layanan profesional, terutama di wilayah Eropa, Timur Tengah, dan Afrika (EMEA).

Informasi tersebut berdasarkan laporan dari Dimension Data yang bertajuk "Executive Guide to the NTT Security 2018 Global Threat Intelligence Report". Dalam laporan tersebut, selama 2017 terjadi 150 juta serangan atau 40 ribu sampai 50 ribu serangan per hari.

Presiden Direktur Dimension Data Indonesia Hendra Lesmana menuturkan, sektor bisnis dan layanan profesional yang menerima 10 persen dari total serangan ransomware secara global, menempati posisi industri ketiga yang paling diincar, naik dari posisi keenam pada tahun 2016, di belakang sektor finansial dan sektor teknologi. ''Sektor ini juga menempati urutan ketiga di Amerika (sembilan persen) dan merupakan sektor paling rentan terhadap serangan di kawasan EMEA, dengan mendapatkan 20 persen dari total serangan,'' kata Hendra, di Jakarta, Kamis (7/6).

Menurut dia, sekalipun serangan ransomware terkait pihak outsourcing terhadap sektor keuangan telah menurun 22 persen pada tahun 2016 menjadi lima persen pada tahun lalu, rantai pasokan pada sektor bisnis dan layanan profesional telah sangat jelas menjadi target utama. Sebab, pertukaran informasi yang sensitif dan pencurian materi properti intelektual berpotensi mengungkap data konsumen dan rekan bisnis.  

''Meskipun jumlah serangannya telah menurun, sektor keuangan masih menjadi target serangan siber untuk pengintaian demi menemukan potensi infrastruktur dan aplikasi yang rentan dengan serangan,'' kata Hendra. 

CTO Dimension Data Group Mark Thomas mengatakan, ada banyak serangan yang bergerak menuju rantai pasokan dan perusahaan outsourcing, yang biasanya menggunakan jaringan infrastruktur berbeda dan tidak mutakhir sehingga menjadi sasaran empuk bagi pelaku ancaman siber. Penyedia layanan dan pihak outsourcing juga merupakan target utama karena pertukaran informasi dan materi yang memiliki properti intelektual yang mereka lakukan.

''Perusahaan-perusahaan perlu lebih bijaksana dalam menghadapi ancaman tersebut, dan meyakinkan semua pihak bahwa proses operasional mereka itu kuat dan aman terlindungi,'' ujar Thomas.

Ia menambahkan, sektor teknologi menjadi industri kedua yang mencatat serangan siber terbanyak di tahun 2017, dengan volume 19 persen, diikuti bisnis dan layanan profesional di posisi ketiga. Hal yang menarik adalah jumlah serangan ke sektor pemerintahan menurun menjadi lima persen dari sembilan persen pada tahun 2016.

Sektor teknologi dan keuangan memperoleh 70 persen dari jumlah seluruh serangan di Amerika. Amerika merupakan negara yang unggul akan inovasi teknologi. Akan tetapi, sektor keuangannya mengumpulkan dan menyimpan data pribadi yang cukup banyak sehingga hal ini dapat dimonetisasi oleh kejahatan siber. Sektor pendidikan menjadi sektor yang paling banyak mengalami serangan di Australia sebanyak 26 persen.

''Dengan model lingkungan yang kolaboratif dan jaringan terbuka yang mendukung konektivitas serta penelitian antar mahasiswa, kampus, sekolah tinggi, dan universitas, menjadikan sektor tersebut sebagai target yang sangat bernilai,'' ungkap Thomas. 

Sementara itu, serangan yang terjadi di sektor manufaktur Asia Pasifik telah menurun sekitar tujuh persen, yang pada 2016 sebayak 32 persen. Hal itu karena adopsi standardisasi peningkatan keamanan dan tindakan proaktif dalam keamanan siber. Sektor keuangan menurun dari 46 persen pada tahun 2016 menjadi 26 persen pada tahun 2017. Namun, sektor tersebut tetap menjadi sektor yang paling banyak diserang di Asia Pasifik. Hal ini disebabkan serangan terhadap spesifik layanan tertentu.

Secara keseluruhan terjadi peningkatan serangan terhadap sektor pendidikan dari 9 persen pada tahun 2016 menjadi 18 persen pada tahun 2017. Cina menjadi sumber utama serangan siber untuk sektor manufaktur, dengan mencatatkan 67 persen aktifvitas penyerangan berbahaya wilayah EMEA (Eropa, Timur Tengah, dan Afrika). 

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA