Friday, 8 Rabiul Awwal 1440 / 16 November 2018

Friday, 8 Rabiul Awwal 1440 / 16 November 2018

Peretas Cina Bidik Korsel Saat Pertemuan Trump-Kim

Kamis 07 Jun 2018 14:26 WIB

Rep: Christiyaningsih/ Red: Ichsan Emrald Alamsyah

Kim Jong-un dan Presiden Donald Trump

Kim Jong-un dan Presiden Donald Trump

Foto: EPA
Dua kelompok peretas yang diidentifikasi FireEye adalah TempTick dan Turla.

REPUBLIKA.CO.ID, WASHINGTON -- Para peretas yang berbasis di Cina dan Rusia disebut membidik Korea Selatan (Korsel) dalam pertemuan bersejarah antara Amerika Serikat (AS) dan Korea Utara (Korut). FireEye, lembaga yang bergerak di bidang keamanan siber dan berbasis di AS, belum lama ini mengungkap prediksinya kepada Independent.

Presiden AS Donald Trump dan pemimpin Korut Kim Jong-un dijadwalkan bertemu pada 12 Juni mendatang di Singapura. Momen tersebut dimanfaatkan para peretas untuk menyerang dua institusi penting Korsel. Kementerian Luar Negeri dan lembaga keuangan disebut sebagai target para peretas itu.

FireEye memperkirakan serangan siber akan makin intens menyasar Korsel menjelang pertemuan Trump dan Kim. "Korsel selama ini sering menjadi target mata-mata siber. Kendati demikian, ancaman terbesar masih didalangi Korut. FireEye meyakini peretas di Cina dan Rusia juga menargetkan Korsel," kata Ben Read, analis spionase siber di FireEye.

"Dengan meningkatnya atensi hubungan antardua negara Korea dalam pertemuan Trump dan Kim, kami meramalkan serangan siber juga makin gencar," katanya.

Trump dan Kim rencananya akan bertemu di Sentosa Island guna mendiskusikan denuklirisasi Korut. Pertemuan itu akan menjadi pertemuan pertama antara pemimpin AS dan Korut. Sejumlah pihak menduga pertemuan tersebut akan menghasilkan deklarasi denuklirisasi.

Dua kelompok peretas yang diidentifikasi FireEye adalah TempTick dan Turla. Keduanya diduga adalah kelompok peretas yang operasionalnya disokong negara. TempTick sebelumnya pernah terlibat dalam serangan organisasi di Cina serta institusi publik dan swasta di Jepang. Aktivitas TempTick sudah dimulai sejak 2009. Sementara itu, Turla memulai aktivitasnya sejak 2006.

"Mereka secara konsisten menargetkan lembaga pemerintah di seluruh dunia. Mereka mencari informasi yang akan digunakan Pemerintah Rusia untuk membuat keputusan," ungkap para peneliti di FireEye.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES