Minggu, 10 Syawwal 1439 / 24 Juni 2018

Minggu, 10 Syawwal 1439 / 24 Juni 2018

Bitcoin Dibobol, Salah Siapa?

Rabu 21 Februari 2018 15:03 WIB

Rep: Nora Azizah/ Red: Winda Destiana Putri

Bitcoin.

Bitcoin.

Foto: Reuters/Benoit Tessier
Peretas biasanya memindahkan aset digital ke dompet pribadinya dan mencairkan dana.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Terkait penyerangan siber terhadap mata uang virtual, Exclusor selaku perusahaan pembangun ekosistem blockchain di Indonesia melihatnya bukan dari kelemahan teknologi. Melainkan dari penyedia jasa digital.

"Kelemahannya justru terdapat pada bursa atau penyedia jasa dompet aset digital," ujar Tata kepada Republika Online, beberapa waktu lalu. Ia secara pribadi juga memiliki aset digital di bursa bernama Mt Gox. Pada 2014 lalu bursa tersebut diretas.

Saat ini, bursa atau dompet virtual pada umumnya masih menggunakan teknologi terpusat atau centralized exchange. Teknologi terpusat membuat semua data, baik rekening pengguna, pribadi, hingga public key masih disimpan dalam satu basis data namun tidak diperkuat dengan sistem keamanan mumpuni.

Kemudian transaksi perdagangan dalam bursa terpusat juga tidak murni dilakukan dalam jaringan blockchain. Misalnya, saat perpindahan aset hanya dilakukan melalui internal bursa saja sehingga tidak ada perpindahan aset sebenarnya dari akun penjual ke pembeli.

Tata menjelaskan, setiap rekening pengguna di bursa atau dompet virtual tidak dimiliki langsung oleh pengguna itu sendiri. Seluruh uang karta atau aset digital tersimpan dan dititipkan di dalam dompet. Dengan demikian, apabila seorang peretas bisa membobol sistem pada dompet virtual, penjahat siber bisa mengakses seluruh rekening yang ada di dalamnya.

Cara peretasan cukup sederhana, yakni peretas biasanya memindahkan aset digital ke dompet pribadinya dan mencairkan dana di sebuah bursa. Alamat peretas masih bisa dilacak apabila masih menggunakan yang sama, dan identitasnya juga bisa diketahui melalui bursa tersebut. Dari segi teknik peretasan pada dasarnya belum ada yang baru. Pelaku kejahatan siber masih menggunakan cara lama, yakni brute force, DDoS, dan lain sebagainya untuk meretas bursa terpusat.

Dalam bermain di aset digital saat ini sudah ada teknologi yang relatif masih baru, yakni berdagang di bursa yang tidak terpusat. Bursa tidak terpusat atau decentralized exchange murni menggunakan teknologi blockchain dalam setiap transaksi.

"Exclusor saat ini sedang mengembangkan teknologi bursa tersebut," lanjut Tata.

Meski demikian, pengguna tetap dituntut untuk terus berhati-hati. Ada banyak cara untuk waspada, salah satu langkah teraman dengan menggunakan dompet pribadi dalam menyimpan aset digital.

Pengguna bisa mengunduh platform resmi untuk hal tersebut. Sebagai contoh, pemilik bitcoin bisa mendapatkan perangkat lunak melalui bitcoin.org. Namun, pengguna harus mengamankan kata sandi dan private key dengan cara mengingat atau menulisnya pada buku catatan.

Banyak kejadian, pemilik bitcoin menyimpannya di dalam dompet pribadi, namun lupa kata sandi sehingga aset kemudian hilang. Saat ini, sudah banyak startup yang menyediakan jasa hardware wallet.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA