Rabu, 16 Syawwal 1440 / 19 Juni 2019

Rabu, 16 Syawwal 1440 / 19 Juni 2019

Pakar: Tak Perlu Ganti Sistem Operasi Komputer

Senin 15 Mei 2017 18:55 WIB

Red: Ani Nursalikah

Ransomware

Ransomware

REPUBLIKA.CO.ID, SEMARANG -- Pakar keamanan siber Pratama Persadha menyatakan tidak perlu mengganti Windows dengan sistem operasi komputer lain, seperti Mac OS dan Linux untuk menghindari serangan ransomware WannaCry. Pratama yang juga Ketua Lembaga Riset Keamanan Siber dan Komunikasi (CISSReC) mengatakan tidak harus ganti operasi sistem (OS).

"Namun, kalau bisa sih, lebih bagus," katanya, Senin (15/5).

Linux adalah sistem operasi komputer bertipe Unix, sedangkan Mac OS adalah sistem operasi komputer yang dibuat oleh Apple Computer khusus untuk komputer Macintosh. Menurut Pratama, sistem Linux dan Mac OS saat ini masih aman dari serangan malware (perangkat lunak berbahaya untuk merusak sistem komputer) WannaCry.

Menyinggung tidak semua negara terkena serangan ransomware, misalnya Singapura, Pratama mengatakan negara tersebut sudah sadar tentang pengamanan komputernya, antara lain, melakukan back up data. Pratama membenarkan tipe malware memang pemerasan. Akan tetapi, ketika dikirim uang, belum tentu si peretas memberikan kunci untuk bisa dibuka file yang sudah terenkripsi.

Baca: Geramnya Rusia Terhadap Serangan Siber Global

Kendati ada unsur penipuan atau berpotensi melanggar Pasal 378 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) dan/atau Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2016 tentang Perubahan atas UU No. 11/2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE), Pratama menegaskan hukum Indonesia sulit untuk menjerat peretas tersebut karena yang bersangkutan adalah warga negara asing dan melakukan aktivitasnya di luar negeri.

Sebelumnya, Pratama mengatakan admin IT di setiap instansi apa pun harus segera melakukan pembaruan seluruh komputer ataupun server yang berada di jaringan. Setelah itu, melakukan vulnerability scanning terhadap komputer-komputer jaringan.

Khusus untuk ransomware WannaCry, beberapa produk vulnerabilty scanner (https://www.rapid7.com/db/modules/auxiliary/scanner/smb/smb_ms17_010) sudah membuat modul-modul yang mampu mendeteksi kelemahan yang dieksploitasi oleh WannaCry.

Walaupun demikian, vulnerability scanning tidak hanya untuk mendeteksi ransomware (perangkat lunak untuk memblokir akses ke sistem komputer, kemudian pelaku meminta imbalan kepada korban supaya bisa mengakses kembali), tetapi juga dapat mendeteksi jika ada kelemahan-kelemahan di dalam sistem.

"Jika ditemukan komputer yang mempunyai kelemahan, segera lakukan mitigasi dengan memutusan koneksi dari komputer tersebut, kemudian sambungkan lagi setelah dilakukan patching atau pembaruan," katanya.

Pratama yang pernah menjabat sebagai Pelaksana Tugas (Plt) Direktur Pengamanan Sinyal Lembaga Sandi Negara (Lemsaneg) menyarankan agar pengguna yang komputernya terkena ransomware untuk memisahkannya dari jaringan supaya tidak menyebar.

Baca: Siber Bareskrim Masih Selidiki Virus Ransomware

Sumber : Antara
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA