Minggu, 8 Zulhijjah 1439 / 19 Agustus 2018

Minggu, 8 Zulhijjah 1439 / 19 Agustus 2018

Teror Kejahatan Siber yang tak Pernah Berhenti

Kamis 13 April 2017 05:17 WIB

Rep: Nora Azizah/ Red: Winda Destiana Putri

Kejahatan siber

Kejahatan siber

Foto: Flickr

REPUBLIKA.CO.ID, Jangan pernah bosan membentengi perangkat dari ancaman kejahatan siber. Sebab, terornya tak akan pernah bisa berhenti. Semakin canggih sebuah sistem perangkat lunak menahan serangan, kecerdasan para black hacker atau peretas jahat juga meningkat.

Keamanan siber selalu menjadi fokus utama bagi Cisco demi membangun infrastruktur perangkat dan jaringan lebih kokoh. "Cyber security selalu menjadi topik paling besar yang dibicarakan perusahaan teknologi dunia, tantangannya juga kian berat dari waktu ke waktu," ujar Vice President Architectures and Chief Technology Officer (CTO) Cisco for Asia Pacific, Japan, and Greater China (APJ) Dave West dalam acara Media Roundtable di Jakarta, baru-baru ini. Keamanan menjadi salah satu poin utama bagi Cisco terhadap era digital dunia.

Cisco menilai transformasi digital tidak bisa dipandang secara biasa. Perubahan yang dilakukan enterprise, baik skala kecil atau besar untuk bertransformasi digital membentuk sebuah ekosistem baru. Sistem keamanan berperan dalam menjaga ekosistem tersebut dari ancaman penjahat siber. Perusahaan pemimpin teknologi informasi (IT) dan jaringan dunia Cisco mengemukakan, Indonesia termasuk ke dalam negara 'waspada' serangan siber tingkat darurat. Berdasarkan data terakhir yang telah diolah Cisco, sebanyak 27 persen malware dari seluruh dunia menyerang Indonesia. Bahkan Indonesia menjadi target nomor satu dunia bagi peretas hitam untuk mengirim malware ke sistem pertahanan siber perusahaan. Kemudian Indonesia juga menjadi negara 'transit' bagi serangan siber. Sebelum menyerang perusahaan di negara lain, para pelaku masuk melalui Indonesia.

Ternyata Indonesia tidak hanya terkenal dengan 'jalur sutera' perdagangan di masa lampau. Di kalangan para penjahat siber, Indonesia juga menjadi jalur bisnis bagi mereka melancarkan serangan ke negara lain. Indonesia menjadi tempat transit karena perusahaan di Indonesia mayoritas memiliki sistem keamanan yang lemah. Ketika pelaku berhasil menjebol sebuah sistem keamanan di Indonesia, maka pintu penghubung meretas ke negara lain akan terbuka. Hal tersebut sudah menjadi rahasia umum dikalangan para ahli teknologi. Enterprise dalam negeri terkadang enggan memperbaharui atau berinvestasi terkait sistem keamanan siber perusahaan. Namun perusahaan tidak bisa disalahkan karena berinvestasi keamanan siber memang memakan biaya cukup tinggi. Tidak heran bila karakter perusahaan di Indonesia cenderung memasang sistem keamanan super kuat dan berlapis setelah terkena serangan.

Country Manager Cisco Systems Indonesia Budi Santoso Sutanto menjelaskan, faktor lain Indonesia mudah dibobol penjahat siber karena human capital yang kurang. Para white hacker atau peretas putih menjadi profesi yang sulit dicari di dalam negeri. Keterbatasan tersebut juga memengaruhi lemahnya benteng keamanan siber Indonesia. Tidak heran bila pekerjaan white hacker menjadi yang paling dicari untuk menduduki kursi dibalik layar sistem IT di sebuah perusahaan. Kemudian cara kerja penjahat siber masa kini juga semakin terorganisir. "Mereka tidak lagi hanya memiliki struktur organisasi, orang-orang yang terlibat di dalamnya mempunyai spesialisasi khusus," jelas Budi. Misalnya, dalam satu tim peretas jahat terdiri dari beberapa hacker yang mahir pada satu bidang. Ketika akan menyerang institusi perbankan, para pelaku sudah memiliki tugas masing-masing. Beberapa di antaranya bahkan paham cara menggunakan software di sebuah bank, dan tentu saja mahir coding.

Di masa depan tren kejahatan siber untuk industri bisnis cukup menyeramkan. Selain memiliki struktur organisasi dan tenaga profesional, penjahat siber juga membuat program serangannya sebagai industri bisnis. Itu sebabnya jaringan penjahat siber tak akan pernah habis sehingga sulit diberantas. Sebab, tujuannya bukan lagi sekadar iseng atau hobi semata tetapi finansial justru menjadi motivasi utamanya. Kemudian di tengah implementasi Internet of Things, pintu peretasan ilegal juga semakin terbuka lebar. Pelaku tidak lagi menyusup melalui perangkat PC atau notebook. Banyak perangkat yang bisa mereka retas karena saling terkoneksi. Itu sebabnya perusahaan harus melakukan perlindungan sistem keamanan seperti melindungi sebuah istana. "Keamanannya tidak hanya harus berlapis-lapis, tetapi sistem yang digunakan juga berkelas tinggi," lanjut Budi. Percuma saja bila mengandalkan sistem keamanan berlapis namun tiap lapisan tersebut rentan untuk disusupi.

Cisco juga menjadi salah satu pengembang sistem keamanam siber berlapis dan end-to-end cyber security dengan kekuatan paling tinggi. Sejauh ini belum ada perusahaan pengembang sistem keamanan yang berani mengklaim produknya bisa 100 persen melindungi perusahaan, namun Cisco berani menjamin hal tersebut. Umumnya pemberitahuan peretasan bisa diketahui perusahaan sekitar 90 hari disusupi. Artinya, selama kurang lebih tiga bulan para pelaku sudah berhasil menyusup. Namun Cisco mampu mengetahui serangan tersebut hanya dalam waktu enam jam. Ketika sebuah perusahaan disusupi, security manager pada software akan langsung memberitahukan hal tersebut dengan cepat. Teknologi ini yang belum ada pada perusahaan pengembang sistem keamanan lainnya.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA