Thursday, 5 Zulhijjah 1439 / 16 August 2018

Thursday, 5 Zulhijjah 1439 / 16 August 2018

Serangan Malware Ancam Pengguna Perangkat IoT

Rabu 26 October 2016 12:55 WIB

Rep: Sri Handayani/ Red: Winda Destiana Putri

Waspada serangan Malware Mirai.

Waspada serangan Malware Mirai.

Foto: Foxnews

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Serangan malware kini mengancam para pengguna perangkat DDoS di Amerika Serikat. Semua router, DVR, peralatan dapur pintar (smart kitchen), kamera berbasis IP diasumsikan dalam kondisi berbahaya. Barang-barang tersebut bekerja dalam hidup manusia seperti zombie yang dikendalikan oleh Night King dalam Game of Thrones.

Dilansir Mashable Selasa (25/10) tidak banyak yang dapat kita lakukan untuk mencegah penyebaran serangan distributed denial of service (DdoS) lebih besar. DDoS dimotori oleh malware bernama Mirai, sebuah kata yang dalam bahasa Jepang berarti ‘masa depan’.

Malware Mirai mulai ditemukan September lalu, ketika terjadi serangan pada situs pakar keamanan Brian Krebs. Serangan ini menghasilkan traffic sebesar 665 GB per detik dan tercatat sebagai serangan DDoS terbesar yang pernah ada. Sebelumnya, serangan dilakukan oleh Akamai pada Juni lalu menghasilkan 363 GB per detik.

Setelah serangan pertama itu, Krebs melaporkan, seseorang bernama Anna-Senpai, merujuk sebuah tokoh dalam serial anime erotis di Jepang, meluncurkan kode malicious pada 1 Oktober. Pada 12 Oktober, Departemen Keamanan Dalam Negeri Amerika Serikat (AS) memeringatkan pengguna produk Sierra Wireless untuk melakukan reboot dan reset password di perangkat router mereka.

Beberapa pihak memprediksi, munculnya kode Mirai akan diikuti serangan DdoS yang lebih besar lagi. Benar saja, Jumat (21/10) lalu, hal itu menjadi nyata. Dalam 24 jam, berapa ahli menyarankan agar dilakukan para pengguna router melakukan reboot dan penggantian password untuk semua benda yang terkoneksi dengan internet.

Namun, saran tersebut terhambat oleh dua isu besar. Pertama, sebagian besar konsumen tidak mempedulikan password perangkat telpon pintar, tablet, email, bahkan akun bank mereka. Mereka umumnya tidak menyadari bahwa benda-benda yang terhubung dengan internet (internet of things/perangkat IoT) memiliki pilihan untuk mengubah password. Kedua, tidak semua perangkat memiliki desain antarmuka untuk mengganti password.

Kedua faktor ini mengindikasikan masih akan terjadi serangan-serangan DDoS beberapa pekan atau bulan mendatang. Walau demikian, ini bukan akhir dari penyebaran perangkat IoT. Akhir tahun lalu, Gartner memprediksi adanya lompatan perangkat IoT sebesar 30 persen. Ini menghasilkan 6,4 miliar pengguna di seluruh dunia. Dalam empat tahun, perangkat ini diprediksi akan terjual hingga 20,8 miliar unit. "Ada banyak benda yang terkoneksi dengan internet, tapi tidak seorang pun memikirkan aspek keamanannya," kata Threat Systems Manager Fidelis Cybersecurity, John Bambenek..

Produsen sering kali menawarkan kesederhanaan desain, namun mengorbankan kontrol teknis pengguna. Regulasi menjadi satu hal yang diharapkan agar para produsen menjamin keamanan produk perangkat IoT mereka. "Jika tidak ada, kita tidak bisa menghentikan serangan ini. akan ada orang yang membuat malware hingga perangkat itu tidak bisa digunakan sama sekali," kata dia.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA