Thursday, 25 Safar 1441 / 24 October 2019

Thursday, 25 Safar 1441 / 24 October 2019

Perang Dagang Rugikan Amerika 7,8 Miliar Dolar AS

Ahad 17 Mar 2019 11:58 WIB

Rep: Adinda Pryanka/ Red: Christiyaningsih

Presiden AS, Donald Trump

Presiden AS, Donald Trump

Foto: EPA
7,8 Miliar dolar AS hilang dalam bentuk produk domestik bruto

REPUBLIKA.CO.ID, WASHINGTON – Perang dagang Amerika Serikat (AS) dengan Cina telah merugikan Negeri Paman Sam hingga 7,8 miliar dolar AS. Nominal tersebut ‘hilang’ dalam produk domestik bruto sepanjang tahun lalu. Angka ini merujuk pada sebuah studi oleh tim ekonom di sejumlah universitas terkemuka Amerika yang diterbitkan pada pekan lalu.

Para peneliti menyebut mereka telah menganalisis dampak jangka pendek dari sikap Presiden AS Donald Trump. Mereka menemukan impor dari negara-negara sasaran menurun 31,5 persen. Ekspor AS juga mengalami penurunan hingga 11 persen. Peneliti turut menemukan kerugian konsumen dan produsen tahunan dari biaya impor yang lebih tinggi mencapai 68,8 miliar dolar AS.

Nominal kerugian 7,8 miliar dolar AS didapatkan setelah memperhitungkan pendapatan tarif yang lebih tinggi dan keuntungan bagi produsen dalam negeri dari harga lebih tinggi. "Total tersebut sekitar 0,04 persen dari PDB," ujar para peneliti dilansir Reuters, Sabtu (16/3).

Studi ini ditulis oleh tim ekonom di Universitas California Berkeley, Universitas Columbia, Universitas Yale, dan Universitas Californa di Los Angeles (UCLA). Hasil studi kemudian diterbitkan Biro Riset Ekonomi Nasional.

Sebelumnya, pada saat kampanye, Trump berjanji untuk mengurangi defisit perdagangan dengan menutup impor yang dinilai tidak adil terhadap AS. Ia juga berjanji menegosiasikan kembali perjanjian perdagangan bebas dan mengejar agenda perdagangan proteksionis guna melindungi industri manufaktur dalam negeri.

Washington dan Beijing diketahui telah terkunci dalam pertempuran tarif selama beberapa bulan karena memaksakan tarif unilateral untuk berperang. Trump telah memberlakukan tarif yang sudah mengguncang Uni Eropa dan mitra dagang utama lainnya.

Para peneliti mengatakan tarif AS lebih banyak diberlakukan untuk negara-negara yang 'kompetitif secara politis'. Sementara itu, tarif pembalasan yang dikenakan pada barang AS telah mengimbanginya. "Kami menemukan pekerja sektor yang dapat diperdagangkan di negara-negara Republik (Cina) merupakan pihak yang terkena dampak terparah dari perang dagang," kata para peneliti.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA