Kamis, 7 Syawwal 1439 / 21 Juni 2018

Kamis, 7 Syawwal 1439 / 21 Juni 2018

Ketika Bela Negara tak Melulu Harus Berperang

Jumat 09 Maret 2018 05:51 WIB

Red: Dwi Murdaningsih

Pada Selasa-Rabu (6-7/3), sebanyak 34 prajurit Kopasus yang datang dari Group 1 Kopassus Solo, Group 2 Kopasus Serang, Group 3 Kopasus Cijantung dan Pusdik Kopassus Bandung mengikuti pelatihan kader pembina wisata matematika bela negara (WMBN.

Pada Selasa-Rabu (6-7/3), sebanyak 34 prajurit Kopasus yang datang dari Group 1 Kopassus Solo, Group 2 Kopasus Serang, Group 3 Kopasus Cijantung dan Pusdik Kopassus Bandung mengikuti pelatihan kader pembina wisata matematika bela negara (WMBN.

Foto: klinik pendidikan mipa
Bela negara tidak harus perang, tapi bisa dilakukan dengan hal-hal positif lainnya.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA --  Komando Pasukan Khusus (Kopasus) menggelar pelatihan pembina wisata matematika bela negara. Meski Kopasus secara teroterial tidak memiliki wilayah, tidak menjadi kendala bagi para Prajurit Kopasus untuk tetap melaksanakan pelatihan bela negara.

Pada Selasa-Rabu (6-7/3), sebanyak 34 prajurit Kopasus yang datang dari Group 1 Kopassus Solo, Group 2 Kopasus Serang, Group 3 Kopasus Cijantung dan Pusdik Kopassus Bandung mengikuti pelatihan kader pembina wisata matematika bela negara (WMBN) di Aula Lapangan Tembak Ksatria, Makopasus Cijantung Jakarta.

Asisten Teritorial, Letnan Kolonel Inf. Ferry Irawan, S.IP, melalui sambutan tertulis yang dibacakan Waaster Kopassus, Letkol Inf Fierman mengatakan bahwa bela negara merupakan sebuah semangat berani berkorban demi tanah air. Baik harta bahkan

nyawa sekalipun berani dikorbankan demi keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

photo

Pada Selasa-Rabu (6-7/3), sebanyak 34 prajurit Kopasus yang datang dari Group 1 Kopassus Solo, Group 2 Kopasus Serang, Group 3 Kopasus Cijantung dan Pusdik Kopassus Bandung mengikuti pelatihan kader pembina wisata matematika bela negara (WMBN).

"Bela Negara adalah tekad, sikap dan tindakan warga negara yang teratur, menyeluruh, terpadu dan berkelanjutan yang dilandasi oleh kecintaan terhadap tanah air serta kesadaran hidup berbangsa dan bernegara," kata dia.

Menunjukkan semangat dan sikap bela negara tidak hanya dilakukan melalui peperangan yang menghasilkan kemerdekaan saja. Namun, dapat ditunjukkan dengan menampilkan perilaku-perilaku yang sesuai dengan kepribadian bangsa Indonesia dalam mengisi kemerdekaan Indonesia.

Mengisi kemerdekaan dapat dikatakan sebagai usaha bela negara. Melalui usaha-usaha positif dalam mengisi kemerdekaan dapat membuat keberlangsungan Indonesia sebagai sebuah negara dapat tetap dipertahankan dan senantiasa mampu menjaga persatuan dan kesatuan bangsa.

Bela negara juga bisa dilakukan dengan cara yang menyenangkan. Misalnya, dengan permainan matematika. Permainan Matematika Bela Negara Ini memang baru baru pertama kali diperkenalkan kepada publik secara resmi dengan menggandeng Klinik Pendidikan Matematika dan llmu Pengetahuan Alam (MIPA) Bogor. Permainan ini  membuat pelajaran bela negara menjadi menyenangkan, dan tidak membosankan.

Bela negara yang mencakup empat pilar negara, yakni Pancasila, UUD 1945, NKRI dan Bhineka Tunggal Ika adalah pelajaran hafalan yang terkadang membuat siswa bosan. Namun dengan adanya metode ini, pelajaran bela negara akan menyenangkan dan aplikatif.

Adapun materi yang disajikan oleh tim instruktur, di antaranya: Penguatan karakter bela negara melalui cara berpikir supra rasional, perkenalan permainan matematika bela negara, dinamika kelompok, penyiapan kader Pembina, dan pembekalan menghadapi kedatangan pelajar untuk kegiatan perdana wisata matematika bela negara (WMBN) mendatang.

Kegiatan Pelatihan Pembina Wisata Matematika Bela Negara di Makopassus Cijantung Jakarta dihadiri oleh Letkol Inf Krido Pramono (Pabandya Puanter Sterad) yang memberikan materi Penguatan Karakter Bangsa Indonesia. Dia mengatakan karakter bangsa Indonesia di antaranya yaitu sikap menghargai perbedaan, semangat untuk bersatu, pantang menyerah, rela berkorban, patriotisme, percaya diri dan kebersamaan serta gotong royong yang kemudian dikenal sebagai Pancasila.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA