Thursday, 5 Zulhijjah 1439 / 16 August 2018

Thursday, 5 Zulhijjah 1439 / 16 August 2018

Minat Pengguna Kamera GoPro Menurun

Jumat 09 February 2018 05:21 WIB

Rep: Zahrotul Oktaviani/ Red: Winda Destiana Putri

GoPro

GoPro

Foto: Cnn
Naik-turunnya minat masyarakat terhadap suatu barang merupakan hal yang wajar.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Minat pengguna terhadap kamera action GoPro dilaporkan mulai berkurang. Hal ini sejalan dengan laporan dari perusahaan yang menyatakan penjualan mereka di kuartal keempat tahun 2017 yang mengecewakan.

Pengamat Telekomunikasi Heru Sutadi memberikan komentarnya atas peristiwa tersebut. Heru mengatakan untuk bisnis device apalagi berbasis teknologi seringnya ketika barang tersebut muncul di pasaran barang bisa saja tiba-tiba naik atau tiba-tiba jatuh. Hal ini terjadi jika tidak ada inovasi baru yang diberikan untuk perangkat tersebut.

 

"Ya kalau dibisnis device, termasuk contohnya bisnis game atau apa, kadang terjadi satu hal yang sama. Seperti misalnya muncul di pasar tiba-tiba booming, tapi bisa jadi tiba-tiba jatuh karena games tidak ada inovasi baru. Sama seperti Pokemon Go yang seminggu kemudian hilang, entah karena orang agak bosan atau apa," ujar Heru saat dihubungi Republika, Kamis (8/2).

 

Naik-turunnya minat masyarakat terhadap suatu barang merupakan hal yang wajar. Namun jika melihat untuk perangkat GoPro ini ada faktor lain yang menjadi penyebab turunnya minat masyarakat salah satunya dari sisi harga.

 

Dirinya melihat GoPro memang banyak peminatnya namun harga yang diberikan mahal. Selain itu pemanfaatan kamera itu terbatas disitu-situ saja tanpa ada hal lain yang lebih menarik.

 

"Orang kebanyakan memilih kamera ya untuk kamera atau foto. Sehingga ada masanya orang merasa 'nggak usah beli lah'. Yang diharapkan perusahaan kan pasarnya berkembang, ternyata tidak berkembang ya mau tidak mau ada strukturisasi perusahaan termasuk pemecatan," lanjutnya.

 

Untuk di negara Indonesia sendiri, Heru menyatakan, pasaran kamera GoPro tidak terlalu besar. Penurunan yang terjadi ada, dalam artian orang yang membeli masih ada namun jumlahnya tidak terlalu besar.

 

GoPro diartikan Heru sebagai sebuah kegembiraan sesaat. Produk devicedianggap dapat bertahan jika ada suatu inovasi terbaru yang terjadi terus menerus. "Kalo misalnya tidak ada inovasi yang baru ya orang juga mikir, 'ah nggak ada lagi yang baru," ucap Heru.

 

Pria kelahiran tahun 1970 ini melanjutkan persaingan untuk teknologi seperti kamera actionini memang sangat ketat. GoPro dianggap bukan sebagai pilihan atau kebutuhan utama bagi masyarakat.

 

Masyarakat kebanyakan masih memilih menggunakan ponsel atau kamera khusus foto bagi pekerja progesional jika ingin mengambil gambar. Atau bisa juga memilih kamera digital yang lebih jelas penggunaannya.

 

Di Indonesia sendiri kamera GoPro mulai ramai sejak dua tahun lalu atau pertengahan tahun 2015. Namun mulai tahun 2017 pembicaraan mengenai GoPro mulai mengalami penurunan.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA