Rabu, 6 Syawwal 1439 / 20 Juni 2018

Rabu, 6 Syawwal 1439 / 20 Juni 2018

Militer AS Siap Perang Lawan Nyamuk Malaria

Selasa 26 Desember 2017 05:29 WIB

Rep: Nora Azizah/ Red: Winda Destiana Putri

Nyamuk Malaria

Nyamuk Malaria

Foto: AP

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Sebuah agen militer Amerika Serikat (AS) melakukan investasi untuk teknologi pemusnah nyamuk malaria. Investasi sebesar 100 juta dollar AS tersebut akan digunakan untuk mengembangkan teknologi kepunahan genetik yang bisa memusnahkan nyamuk malaria, hewan pengerat invasif, dan spesies sejenis lainnya.

Dilansir melalui The Guardian laporan tersebut diperoleh berdasarkan dokumen dari Defense Advanced Research Projects Agency (Darpa) yang menjadi founder peneliatan gen drive terbesar di dunia. Penggunaan teknologi kepunahan dalam Bioweapons merupakan sebuah mimpi buruk.

Namun penelitian menyebutkan hanya fokus pada pengendalian hama dan pemberantasan. Saat ini sudah ada alat pengendalian gen mutakhir, yakni Crispr-Cas9. Alat tersebut bekerja menggunakan asam ribonukleat sintesis (RNA) untuk memotong untai DNA. Kemudian proses berlanjut menyisipkan, mengubah, atau menghilangkan sifat yang ditargetkan. Salah satu contoh, alat mampu melakukan distorsi rasio seks nyamuk secara efektif untuk menghapus populasi malaria.

Dokumen tersebut tentu mendapat tanggapan dari The United Nations (PBB) tentang keanekaragaman hayati. Hal tersebut masih menjadi perdebatan terkait pemberlakuan moratorium untuk penelitian gen di tahun mendatang. Pasalnya, beberapa negara khususnya di bagian selatan merasa khawatir terhadap kemungkinan aplikasi teknologi tersebut yang dikendalikan militer. Seorang Diplomat PBB yang tidak diketahui namanya menyebutkan, dokumen tersebut akan memperburuk keadaan drive gen bagi beberapa kalangan. "Banyak negara khawatir ketika mengetahui penelitian berasal dari Darpa," jelas sumber tersebut.

Para pakar pembicara PBB merasa khawatir terhadap konsekuensi yang tidak diharapkan. Teknologi mungkin bisa saja menghapus seluruh virus atau populasi nyamuk. Namun tentu akan memberikan efek ekologi hilir terhadap ketergantungan spesies. Rasa khawatir tebesar, yakni mungkin terlepas dari niat baik tersebut ada ketergantungan yang tak bisa diubah terhadap lingkungan. Co-Director dari ETC Group, sebuah perusahaan teknologi di AS, Jim Thomas mengatakan bahwa pengaruh militer AS akan memperkuat larangan dari kasus tersebut.

"Sifat penggunaan ganda untuk mengubah dan memberantas seluruh populasi merupakan ancaman bagi keamanan serta perdamaian pangan," jelas Thomas. Militisasi pendanaan gen drive mungkin bisa bertentangan terhadap penggunaan modifikasi teknologi lingkungan yang tidak bersahabat. Sementara itu, antara 2008 sampai 2014 pemerintah AS sudah menghabiskan sekitar 820 juta dollar AS untuk pendanaan biologi sintesis. Sejak 2012, pendanaan tersebut sebagian besar datang dari Darpa dan badan militer lainnya.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES

In Picture: Senegal Menang 2-1 Atas Polandia

Rabu , 20 Juni 2018, 00:22 WIB