Wednesday, 11 Syawwal 1441 / 03 June 2020

Wednesday, 11 Syawwal 1441 / 03 June 2020

Partai Politik India Diduga Gunakan Whatsapp untuk Kampanye

Kamis 07 Feb 2019 07:28 WIB

Rep: Flori Sidebang / Red: Ani Nursalikah

Aplikasi Whatsapp (ilustrasi).

Aplikasi Whatsapp (ilustrasi).

Foto: REUTERS/Dado Ruvic
Whatsapp memperingatkan platform tersebut bukan aplikasi siaran.

REPUBLIKA.CO.ID, NEW DELHI -- Partai-partai politik India diduga telah menyalahgunakan aplikasi layanan pesan populer Whatsapp jelang pemilihan umum yang akan dilaksanakan Mei mendatang. Facebook Inc sebagai perusahaan yang bertanggungjawab atas aplikasi itu telah memperingatkan semua pihak tidak menyalahgunakannya.

Aplikasi pesan singkat itu diduga telah menjadi alat kampanye utama yang digunakan secara masif oleh partai yang berkuasa, Partai Bharatiya Janata (BJP) dan partai oposisi di kongres. Keduanya saling menuduh menyebarkan berita palsu dan masing-masing pihak menyangkal melakukannya.

"Kami telah melihat sejumlah pihak mencoba menggunakan Whatsapp dengan cara yang tidak dimaksudkan. Secara tegas kami sampaikan kepada mereka, penggunaan cara seperti itu akan menghasilkan larangan terhadap layanan kami," kata Kepala Komunikasi Whatsapp, Carl Woog, Rabu (6/2).

Namun, ia menambahkan, Whatsapp menolak menyebutkan nama partai atau memberikan pelanggaran yang tepat dari dugaan penyalahgunaan itu. Tetapi di sisi lain ada kekhawatiran yang meningkat di India, yakni pekerja partai dapat menyalahgunakan platform dengan menggunakan alat otomatis untuk pengiriman pesan secara massal, atau menyebarkan berita palsu untuk mempengaruhi pemilih.

India adalah negara dengan jumlah pengguna Whatsapp terbesar di dunia, yaitu lebih dari 200 juta pengguna. Jelang jajak pendapat negara bagian di Rajasthan pada Desember lalu, para pejabat dari partai BJP dan Kongres menunjukkan kepada wartawan sejumlah grup di aplikasi Whatsapp. Mereka bergabung di grup-grup itu dan menggunakannya untuk berkampanye.

Woog mengatakan telah berbicara dengan partai politik untuk menjelaskan aplikasi itu bukanlah platform siaran. “Kami berusaha menjelaskan pada pihak yang terlibat pemilu bahwa ada penyalahgunaan Whatsapp. Kami pun bekerja sangat keras untuk mengidentifikasi dan mencegahnya sesegera mungkin,” ucapnya.

Kepala Teknologi Informasi BJP, Amit Malviya mengatakan, ia belum bertemu dengan perwakilan dari Whatsapp dan menolak berkomentar lebih lanjut. Kepala Media Sosial Partai Kongres, Divya Spandana mengatakan, partainya tidak menyalahgunakan Whatsapp.

Whatsapp telah menjadi pusat kontroversi di India sejak tahun lalu setelah pesan-pesan palsu menyebar di platform tersebut dan memicu sejumlah penggerebekan massa. Whatsapp telah mencoba menekan jumlah penyebaran berita palsu dengan mendidik para pengguna melalui sosialisasi secara roadshow, serta melalui iklan di media cetak dan radio. Perusahaan itu juga telah membatasi jumlah orang yang dapat meneruskan pesan sekaligus.

Saat ini, Whatsapp memiliki 1,5 miliar pengguna aktif di seluruh dunia. Whatsapp mengatakan memblokir dua juta akun setiap bulan untuk mengirim pesan secara massal atau otomatis. Namun, perusahaan tidak menyebutkan berapa banyak akun yang dilarang di India.

sumber : Reuters
BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA